KOLABORATOR 10 TAHUN LAWLESS JAKARTA: Herry Sutresna

Nama Herry ‘Ucok’ Sutresna atau yang dikenal dengan nama moniker Morgue Vanguard tentunya sudah tidak asing lagi bagi para penikmat musik hip hop, skena bawah tanah musik Indonesia. Dalam karir bermusiknya, ia dikenal aktif bersama grup hip hop Homicide sejak tahun 1994 hingga tahun 2007. Rupanya hasrat bermusik menuangkan kegelisahan sosial dalam bait-bait lirik lagu dalam dirinya enggan padam, Ucok muncul kembali dengan proyek Bars of Death pada tahun 2014. Tahun itu, ia menulis lagu “All Cops Are Gods” yang dimasukkan dalam sebuah kompilasi Memobilisasi Kemuakan yang dirilis oleh Grimloc Records dalam format digital. Sampai tulisan ini dibuat, Bars of Death masih berjalan.

Bagi mereka yang gemar dalam menyuarakan kegelisahannya lewat bait-bait lagu, tentunya dapat kita pahami bersama bahwa ia memiliki ketertarikan yang tinggi akan dunia literasi dan tulis menulis. Hal ini terbukti selain karya tulisnya yang dapat kita nikmati dalam tiap bait Bars of Death, Ucok telah memiliki karya tulis lain yang telah dibukukan. Dua buku yang ia tulis, yakni “Setelah Boombox Usai Menyalak” [2016] dan “Flip Da Skrip, Kumpulan Catatan Rap Nerd Selama Satu Dekade” [2018], laku keras. Ucok  juga dikenal aktif dalam dunia ilustrasi, salah satunya karyanya adalah album phenomenon dari band Ssslothhh, dan masih banyak lainnya. Dalam pengerjaan artwork Roadskull, Herry Sutresna meletakkan sosok GG Allin menggantikan image tengkorak yang sudah melekat dengan Lawless. Menurutnya GG Allin seharusnya berada dalam kamus Thesaurus sebagai sinonim atau metafor dari kegilaan, kekacauan. Ucok menjelaskannya dalam rasional visual yang ia sampaikan melalui email:

“GG Allin should be up there on thesaurus as a synonym or metaphor for being seditious, unruly, transgressing, insane and miscreant. Being ‘lawless’, but prolific and cult at the same time. Politically – incorrect anti-authoritarian and misanthropic existance.” – Herry Sutresna