THE HYDRANT Lokananta Riot

hydrant

 

THE HYDRANT

Lokananta Riot

(self release)

Salah satu kuartet paling panas yang belakangan ini seringkali dibicarakan adalah The Hydrant. Bli Vincent (gitar), Bli Christopper (stand up drum), Bli Adi (bas) dan Bli Marshello (vokal) hadir membawa sebuah amunisi baru bernama Lokananta Riot. Ditulis dan diasah di pulau Dewata, kemudian 13 nomor penyulut dansa tersebut direkam dan digodok didalam studio legendaris Lokananta di Solo dengan tekhnik live recording.

Tentu saja bukan perkara rumit bagi The Hydrant untuk menyajikan musik rockabilly pada faedahnya. Masih dalam ruang lingkup syahdunya jatuh cinta, kekaguman atas musik rock n roll, suasana pesta yang gempita, hingga suara perlawanan dan protes adalah sebuah paket lengkap yang disajikan The Hydrant untuk album Lokananta Riot ini.

Membuka album dengan nomor hura-hura seperti “Get Up (Boys & Girls)” adalah langkah tepat untuk membakar setiap pendengar sejak dini, minimal ada hentakan kaki kecil dan jentikan jari saat lagu ini terputar. Persembahan The Hydrant untuk musik rock n roll dan yang termahsyur Elvis Presley juga tergambarkan secara jelas lewat suasana di “My Music Is Rock N Roll”.

Kemudian dapat dipastikan bahwa keempat figur gagah perkasa ini adalah para pribadi yang sungguh enggan melewatkan keseruan malam pesta yang didalamnya melibatkan liquor dan wanita cantik, apabila tidak percaya silahkan simak “Pesta” dan “The Riot Angels”, mereka oportunistis. Ada yang unik disini, mari sedikit menerka, apakah Whiskey merupakan minuman favorit mereka? Karena kalimat “Whiskey on the rock,” kembali tercetus di “The Riot Angels” setelah sebelumnya sempat menjadi bagian paling diingat dalam lagu “Bali Bandidos” beberapa tahun lalu.

Dan terakhir yang paling krusial. “Bali adalah punk rock, punk rock adalah Bali,” mungkin tidak akan pernah usang terdengar. Bagaimana para putra daerah mereka bersuara menyampaikan ketidaksukaan atas sistem yang merusak dalam balutan seni merupakan pemandangan yang wajar di tanah para dewa tersebut. The Hydrant merupakan bagian dari banyaknya musisi lokal Bali yang kerap turun kejalan menolak proyek reklamasi Teluk Benoa yang beberapa waktu belakangan ini tak hentinya mereka perjuangkan agar alam mereka tidak semakin hancur diberangus korporasi penuh tipu daya.

“Hati-Hati Ada Proyek” merupakan bentuk penolakan mereka secara terang-terangan. Penggambaran keseharian di jalanan Legian-Kuta yang selalu bikin gerah atas nama proyek ini itu, juga koor “Tolak Reklamasi” bersama-sama di lagu ini seperti memberi isyarat bahwa jangan harap semangat mereka redup saat melawan proyek berkedok revitalisasi ini. Juga “Terombang-Ambing” tentang muaknya mereka akan gundukan sampah di pantai paling ikonik di Bali, pantai Kuta.

Seperti sesajen yang masih terlihat di dimana-mana di Bali, bahkan sampai di tempat hiburan sekalipun, Bali adalah bentuk konkrit dan contoh riil bagaimana adat istiadat bisa berjalan selaras berimbang dengan modernisasi. Mungkin alasan tersebut yang dipakai The Hydrant untuk menutup album Lokananta Riot dengan “Penyanyi Bali” yang dinyanyikan menggunakan bahasa daerah kebanggaan mereka tersebut.

[Yulio Onta]

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-the-hydrant-lokananta-riot.html">
Twitter