SIGMUN Crimson Eyes

Crimson Eyes

 

SIGMUN

Crimson Eyes

[Orange Cliff Records]

 

Semenjak mencuri perhatian publik beberapa tahun lalu pada awal kemunculannya dengan mengisi soundtrack film lokal paling ramai dibicarakan hingga ke taraf internasional, The Raid, Sigmun tidak pernah gagal dalam memberikan kesan impresif dalam setiap penampilan mereka. Baik itu ketika di atas panggung hingga melepas nomor-nomor handal dalam beberapa format yang sayangnya dianggap kurang ideal untuk band sekaliber Sigmun.

Hanya beberapa single yang dikemas kedalam piringan hitam dan kaset pada medio 2012-2014 serta three way split bersama Suri dan Jelaga, kian membuat karya utuh dari Sigmun semakin dinanti dan digadang-gadang akan lebih sempurna lagi dari apa yang sebelumnya telah mereka lepas. Tidak berlebihan, lewat lagu macam “The Long Haul”, “The Land of Living Dead”, Sigmun tidak jarang dilabeli sebagai band rock yang cukup telaten. Proses penggodokan materi hingga eksekusi saat produksi diperhatikan sampai ke titik terdetil.

Sudah semestinya Sigmun menyajikan materi paling jumawa dari mereka sebagai rilisan pertama. Adalah Orange Cliff Records yang dipercayakan oleh Sigmun untuk mewadahi apa yang sudah cukup lama ditunggu oleh para stonerheads, metal militia hingga hard rockers lokal, album penuh perdana dengan tajuk Crimson Eyes. Memang Orange Cliff Records dan Sigmun sudah kerap kali saling bantu pada proyek-proyek sebelumnya.

Sigmun sudah dalam level mampu mengobrak-abrik emosi pendengarnya sejak “In The Horizon” dipilih menjadi track pembuka album. Rotasi riff-riff liar mengisi penuh nomor-nomor selanjutnya. Album ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang sangat progresif. Dari “Vultures” yang punya daya porak-poranda kelas wahid, merambat naik perlahan hingga ke “Devil In Disguise” serta “Halfglass Full Of Poison”. Jangan membohongi diri sendiri, adalah mustahil apabila kalian tidak menganggukan kepala saat lagu-lagu pengayun tersebut diputar. Semuanya halusinatif, “I’m seeing in different color, as the room is getting smaller,”.

Vokal Haikal yang terdengar semakin khas, tidak terlalu berat juga tidak terlalu melengking, tepat porsi, menjadi senjata utama selain tentu saja ramuan instrumen yang disusun dengan amat cermat. Sigmun adalah sekelompok anak muda jenius yang memilih untuk berkawan dengan alat musik. Sebuah pilihan yang tentunya harus dipertanggung jawabkan apabila ada korban “hilang” karena terlalu banyak menenggak substansi sambil menyimak Crimson Eyes dalam volume yang maksimal.

Indera pendengaran kian meruncing saat “The Gravestones” memasuki gilirannya. Sigmun belum pernah terdengar semenyalak dan secepat ini. Menuju kengerian abadi, “The Gravestones” merupakan nomor penuh kejutan, mudahnya kita katakan sebagai lagu yang sangat tidak Sigmun. Sisa track semacam “Prayer Of Tempest”, “Inner Sanctum”, yang terdahsyat “Golden Tangerine”, “Aerial Chateau” versi baru dan penutup “Ozymandias” adalah tipikal lagu yang akan mengantarkan kalian menuju akhir perjalanan yang penuh keringat dan melelahkan, seketika tersadar bangun sambil menatap CD player dengan speaker terbaik.

Jangan tanyakan lagi apa yang dikonsumsi Sigmun saat menulis Crimson Eyes, membosankan. Coba tengok sekitarnya, lontarkan pernyataan tersebut kepada Kendra Ahimsa alias Ardneks, apa yang ia lahap sehingga mampu mentransformasikan mantra-mantra beracun dari Sigmun kedalam medium gambar dengan sangat lembut, lembut yang membiuskan hingga level kagum setiap mata. Perpaduan Sigmun dengan Kendra Ahimsa untuk Crimson Eyes merupakan salah satu bentuk kerjasama terbaik tahun 2015. [Yulio Onta]

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-sigmun-crimson-eyes.html">
Twitter