LAMB OF GOD VII: Sturm Und Drang

lamb-of-god-vii-sturm-und-drang-artwork

LAMB OF GOD

VII: Sturm Und Drang

[Epic/Nuclear Blast]

 

Beberapa tahun belakangan ini sepertinya adalah masa sulit penuh cobaan bagi Lamb of God, terutama ketika sang vokalis, Randy Blythe, harus menjalani peradilan dan ditahan di Ceko karena insiden yang menyebabkan meninggalnya seorang pemuda di konser Lamb of God di Praha, hingga kemudian diputuskan bebas oleh Pengadilan Tinggi Praha. Dan, bila musik adalah katalis, maka album kedelapan, VII: Sturm Und Drang adalah semacam medium penuang kegelisahan dan kemelut yang dialami Lamb of God; album intens yang menjadi penanda kebangkitan kembali band asal Richmond, Virginia, AS itu.

 

Judul albumnya dalam bahasa Jerman yang berarti badai dan tekanan, Sturm Und Drang, adalah sebuah mazhab dari gerakan literatur dan musik di Jerman di abad ke-18 yang coba menentang konsep rasionalisme dalam mengekpresikan kompleksitas emosi manusia dalam karya. Mungkin judul itu dipilih oleh Lamb of God karena maknanya sangat mengena akan kondisi psikologis dan fisikal dari kekacauan yang mereka alami sebagai band. Album dibuka dengan “Still Echoes” yang memberi sinyal keyakinan bahwa Lamb of God masih ganas dan baik-baik saja. Lagu itu merekam kisah dari penjara Pankrác dimana Randy Blythe sempat mendekam. Sisi personal pengalaman terinstitusionalisasikan Blythe pun terekam dalam “#512” yang merupakan nomer sel penjaranya; teriakan Blythe terdengar super emosional di lagu ini, bagi yang pernah dipenjara mungkin tahu perenungan perasaan Blythe. “Footprints” dan “Anthropoid” adalah nomer pemecah mosh pit. “Engage The Fear Machine” juga nomer pengayun headbang yang juga pemenang, mosh pit destroyer. Plus “Delusion Pandemic” nomer dengan bagian breakdown-nya di bagian menjelang akhir lagu.

 

Jurus musikal dari Lamb of God di album barunya semacam mencoba menyempurnakan gaya groove metal-nya yang dilebur dengan Swedish death metal, dan elemen modern metal Amerikana. Eksperimentasi yang coba dilakukan dan terdengar di “Embers” yang menampilkan Chino Moreno (Deftones) sebagai vokalis tamu; dan “Torches” yang juga menampilkan vokalis tamu yaitu Greg Puciato (The Dillinger Escape Plan). Dari satu dan lain hal eksplorasi musikal Lamb of God di album ini, momen yang agak keterlaluan semacam jayus menurut saya adalah “Overlord”, dimana Lamb of God mencoba membuat aura balada hard rock stadion korek api mengacung di udara, lagu berdurasi hampir tujuh menit dengan rambu waspada kencang di menit 03:28 hingga menit 04:47. Tak semua kerja keras harus sempurna, dan untuk ketiga kalinya Lamb of God kembali bekerja dengan Josh Wilbur, produser yang juga mengerjakan Wrath (2009) dan Resolution (2012). Dan, hanya untuk versi digipak edisi terbatas dari VII: Sturm Und Drang ada bonus dua lagu di dalamnya yaitu lagu “Wine & Piss” dan “Nightmare Seeker (The Little Red House).

 

Secara keseluruhan daripada sibuk membandingkan bla bla bla sound mereka dahulu dengan album terbarunya sekarang yang terkonsep terpoles rapi, yang pasti dengan album barunya Lamb of God -yang notabene merupakan salah satu eksponen dari New Wave of American Heavy Metal- menunjukkan apa yang tak membunuh mereka membuat mereka jadi lebih kuat, and they’re back with a vengeance! [Farid Amriansyah a.k.a Riann Pelor]

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-lamb-of-god-vii-sturm-und-drang.html">
Twitter