ILSA The Felon’s Claw

ilsa

ILSA

The Felon’s Claw

[A389 Recordings]

 

Saya akan bilang kalau Ilsa adalah band terkeji saat ini. Menyimak album baru [dan ketiga] mereka, The Felon’s Claw, rasanya juga tidak mengenal ampun dan menghajar dari awal dengan kejam. Bagusnya, sesuai dengan harapan saya akan sebuah rekaman yang mengerikan dan membekas di kepala, apalagi sudah ada ekspektasi tertentu setelah sebelumnya mereka mencanangkan kemenangan dengan rilisan-rilisan sebelumnya. Perpaduan antara crust dengan sludge dan kadang death metal ini seperti menghasilkan sebuah kekerasan yang nampaknya menggilas segala sesuatu yang menghalangi jalan mereka. Antara sering bolak-balik antara bagian doomy yang lambat dengan satu lagu dan kemudian menghajar dengan pengaruh punk rock yang cepat lalu kembali melambat heavy.

 

Sejak dibuka oleh track “Oubliette”, Ilsa tidak ragu menggilas habis dengan formula distorsi gitar yang terasa ribuan layer nan heavy. Departemen gitar kadang sedikit mengingatkan dengan sound Swedish death metal, tapi juga tidak semirip Black Breath yang sound-nya seakan plek-plekan persis keluar dari efek Boss Heavy Metal HM-2. Atau part-part yang lebih dinamis dalam lagu seperti “Pass//Out”, yang dieksekusi secara efektif mengaransemen beat-beat yang merangkak pelan hingga meradang cepat dan beringas. “Pandolpho” bisa jadi adalah track paling ‘catchy’ disini, berangkat dari pelan dan meledak menjadi cepat sebelum kembali memelan mengerikan. “Song of the Saw Blade” menutup dengan sempurna, upbeat menghentak seakan The Night’s King dari serial TV Game of Thrones memimpin pasukan White Walkers dan wights maju menghancurkan umat manusia.

 

Death-rattle vokal Orion Peter seperti menyatakan sebuah kutukan kegelapan sejak dari nomor pembuka, dengan atmosfer klaustrofobik yang terasa nyata. Intens, dan gempuran drum Josh Brettel mengakomodir sound ultra heavy dari duo gitaris Brendan Griffiths dan Tim Moyer, sementara bassis Sharda Satsangi juga tidak kalah mendentumkan heaviness dan menambah kekuatan dalam satu kesatuan. Pas, dan tidak berlebihan. Semua ini terasa tanpa harapan dan juga misantropik-hal yang bagus dalam konteks review ini.

 

Persembahan Ilsa terbaru ini adalah sebuah rekaman death doom yang crusty dan kotor, penuh dengan riff-riff low-end yang menakutkan. Saya membayangkan The Felon’s Claw adalah soundtrack untuk film-film slasher klasik tahun ’70an yang di-remake era sekarang tanpa mengurangi kengeriannya. [arian13]

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-ilsa-the-felons-claw.html">
Twitter