HIGH ON FIRE Luminiferous

81TbjUH8KDL._SL1500_

HIGH ON FIRE

Luminiferous

[E1 Music]

 

Bila Sleep adalah soundtrack penggetar skrotum, maka vokalis/gitaris Matt Pike di High On Fire menyediakan soundtrack penggetar yang mencabut dan mengoyak skrotum dari selangkangan; purba, monolitik dan kencang. Dan, adalah tepat majalah Rolling Stone Amerika memasukkan Matt Pike dalam daftar ‘The 100 Greatest Guitarists of All Time’ dan julukan Stoner Metal Ruler karena secara pribadi saya pun penggemar apa yang dilakukan Matt Pike dengan gitarnya.

 

Lupakan sejenak Matt Pike dan kembali ke High On Fire, karena setelah merilis enam album mereka kembali lagi dengan album ke-7, Luminiferous, yang dirilis bulan Juni 2015 lalu. Kembali bekerjasama dengan Kurt Ballou (Converge) sebagai produser yang juga mengerjakan De Vermis Mysteriis (2012), sepertinya High On Fire tidak mengendor ataupun kehilangan arah bahkan menurut saya bisa dibilang menyempurnakan musiknya di album baru, melebur elemen terbaik dari Venom, Motorhead dan Black Sabbath menjadi citarasa khas High On Fire yang tak terkalahkan. Bukan hanya dari kekuatan gitar dan kharisma Matt Pike tapi juga dari permainan drums eksepsional, Des Kensel, yang bermain keras memberi pondasi untuk dinamik musik dalam spektrum antara kencang, sludgy dan juga groovy, pola ritmik purba ganas cantik yang dibangun bersama permainan bass, Jeff Matz. Trio High On Fire sungguh membangun kemegahan dalam Luminiferous, and they’re doing it with finesse.

 

Setelah riset sana-sini dan membaca lirik-lirik lagu dalam Luminiferous sepertinya Matt Pike memiliki ketertarikan akan teori konspirasi khususnya teori reptilianya David Icke, absurd tapi menemukan ranah yang tepat ketika diangkat sebagai tema lirikal oleh High On Fire. Tanpa perlu menjelaskan liriknya satu-persatu secara masturbatif –karena saya juga secara pribadi memiliki ketertarikan akan teori konspirasi dan sains fiksi-, langsung saja ke musik Luminiferous yang dimulai dengan “The Black Plot” yang dibuka dengan kombinasi brutal dentum drums dan bass yang dibalut riff ganas, khas High On Fire, sebelum masuk menghajar perbatasan doom metal dan hardcore punk yang bisa dibilang ramuan jurus klasik High On Fire, bila kamu pendengar akut band sludge metal asal Oakland itu bisa langsung tahu kamu mendengarkan High On Fire. “Carcosa” cukup menarik dengan warna stoner-nya, groove yang fuzzy menggetar selangkangan, dan Matt Pike terdengar bernyanyi di lagu ini yang merambat dalam tempo medium ini. “The Sunless Years” sebuah nomer petualangan psikedelia nan heavy akan dunia dan konspirasi apokaliptik depopulasi dan chemtrails dengan akhir yang atmosferis. ”Slave The Hive” perpaduan kencang kelam dari thrash metal dan hardcore punk ala High On Fire, ngebut.

 

Apa yang terjadi bila High On Fire membuat lagu balada? Jawabannya “The Falconist”, dan ya, mereka mengeksekusinya dengan sangat baik, fist pumpin’ headbangin’ ballad. Sebuah oase kesegaran diantara nomer-nomer keras yang khas seperti “Dark Side of the Compass” dan “Luminiferous”, begitu juga ketika agresifitas diredam ditarik lamunan batin mendalam yang terjadi adalah “The Cave” sebuah stoner metal – balada yang proses kreatifnya mungkin juga terpengaruh oleh reuni Matt Pike dengan Sleep. Juga begitu pula dengan nomer penutup, “The Lethal Chamber”, yang direndam dalam lumpur kental sludge – doom – hardcore punk seperti Saint Vitus bergulat dengan Amebix dalam durasi sembilan menit. Yang pasti, alur dan dinamika warna musika dalam Luminiferous tak membuat mendengarkan High On Fire -setelah tujuh album- jadi membosankan, dan juga tak membuat merasa kehilangan karena mereka tetap High On Fire yang kita kenal. [Farid Amriansyah a.k.a Riann Pelor]

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-high-on-fire-luminiferous.html">
Twitter