GHOST Meliora

ghost-meliora

 

GHOST

Meliora

[Loma Vista Recordings]

 

Bila ada band dari dekade pertama milenium kedua yang membuat saya tersihir hingga terpikat dan cinta mati itu adalah Ghost. Entah teluh pengasih apa yang mereka tebar tapi yang pasti ramuan musikal dan konseptual band doom metal dari Swedia itu sangatlah berkelas. Leburan doom metal, prog-rock, sensibilitas pop dan okultisme satanis diperkuat dengan keteguhan Ghost menjaga identitas dari Papa Emeritus dan Nameless Ghouls juga menambah misteri dan pesona dari band yang membuat Slipknot –dan band bertopeng lainnya- menjadi semacam mainan anak kecil.

 

Setelah Opus Eponymous (2010) yang menjadi penanda jejak eksistensi dan Infestissumam (2013) dengan petualangan sensibilitas popnya, Ghost kembali dengan Meliora dengan ramuan terbaik dari kreasi mereka sebelumnya; sound-nya terdengar lebih modern dan terpoles namun juga kembali keras –yang bukan dalam arti gahar dalam kosakata musika Ghost. Album ketiganya juga menjadi penanda perpindahan tahta frontman misteriusnya dari Papa Emeritus II ke Papa Emeritus III. Melepas tiga lagu single sebelum tanggal rilisnya pada minggu keempat Agustus 2015, yang membuat penuh harapan akan Meliora. Pengharapan yang berubah menjadi eforia ketika mendengar “Spirit” dengan intro pembukaan ala film horornya dan riff penggelora headbang, eforia untuk keindahan atas nama kesesatan kerajaan setan. Dengan dentum bass pembuka yang pemenang, Ghost bermain keras di “From The Pinnacle To The Pit”, groovy heaviness dengan komposisi dan dinamika mood antara “gelap dan terang” yang brilian. Fist pumpin’ headbanging riffs dari nomer epik “Cirice” adalah doom metal dengan citarasa stadium rock. “He Is” adalah balada hard rock bernuansa folk yang memancarkan aura muram kesedihan akan sang penguasa kegelapan yang disingkirkan; yang sekilas saya menangkap kilas aura Eagles “Hotel California”, in a good way. “Mummy Dust” adalah manifesto tugas tak suci satana yang sekilas mengingatkan macam versi keras dan gelap dari lagu Queen “Flash” -yang merupakan lagu tema dari film ‘Flash Gordon’ (1980). Nada melodi yang cantik, suara synth ala Hammond dan heavy riff adalah arsenal dari “Majesty” yang semacam menarik referensinya dari Deep Purple. Dua nomer instrumental, “Spöksonat” dan “Devil Church”, menjadi semacam intermission dalam album seperti dalam sebuah pertunjukan teater. “Absolution” dengan baik menjadi macam sebuah analogi bisikan bujukan dan ejekan setan untuk para pemohon ampunan dosa; dalam kasus ini bila setannya memainkan hard rock. Dengan bagian verse yang sekilas semacam mengingatkan akan Madness “House of Fun” album ditutup oleh, “Deus In Absentia”, dengan suara detak jam dan choir yang meninggalkan emosi dalam hening kehampaan dunia yang diabaikan Tuhan. Menggunakan referensi film ‘Silence of the Lamb’ dan ‘King Kong’ untuk ilustrasi singles dari Meliora, cover art-nya yang dikerjakan Zbigniew M. Bielak –yang juga mengerjakan ilustrasi untuk tiap lagu- juga menjadikan poster film ‘Metropolis’ (1927) menjadi semacam referensinya, the devilish Metropolis.

 

Sebagai penutup, perlu dicatat produsernya Klas Åhlund yang notabene biasa menangani musisi pop dan mixing engineer, Andy Wallace, jelas melakukan kerja yang bagus dalam menaikkan kelas dan mengeluarkan potensi terbaik Ghost dalam proses produksi album barunya. Meliora adalah evolusi musikal dari Ghost yang berhasil menggodok musiknya menjadi candu yang menyihir dengan keindahannya. Persembahan yang menempatkan Ghost di tahta tersendiri dalam ranah musik metal, whether you like it or not.

[Farid Amriansyah a.k.a Riann Pelor]

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-ghost-meliora-3.html">
Twitter