ACID KING Middle Of Nowhere Center Of Everywhere

Acid-King-Middle-of-Nowhere-Center-of-Everywhere

ACID KING

Middle of Nowhere, Center of Everywhere

[Svart Records]

 

Mengulas band penggetar selangkangan membutuhkan “amunisi” yang pas, apalagi bila yang diulas adalah band stoner/doom metal asal San Francisco, Acid King. Cukup euforik karena dalam rentang yang cukup panjang, hampir satu dekade lewat sejak album ketiganya Acid King III (2005) akhirnya Acid King merilis album baru. Sekedar catatan, grup dengan reputasi legendaris itu berarti baru merilis empat album penuh –dan tiga EP- sepanjang 20 tahun eksistensinya. Seperti musiknya, mungkin mereka berpikir tak perlu terburu-buru untuk merilis materi baru, lamban perlahan tapi pasti.

 

Dan, di semester pertama tahun 2015 ini, sang monster bangun dari hiatus kreatif panjangnya dari studio, memberikan suguhan yang membayar lunas penantian panjang akan Acid King dengan Middle of Nowhere, Center of Everywhere. Dengan line-up, Lori. S (vokal, gitar), Joey Osbourne (drums) dan Mark Lamb (bass) di album barunya mereka menyuguhkan kemantapan dalam seleksi nomer berat yang meramu super heavy riff merambat kental bak lava yang juga memijarkan aura psikedelik yang membius dengan vokal khas Lori. S dan drums yang membentuk pola ritma berdentum bak gergasi yang cerdik. Dibuka dengan “Intro” dan “Outro” yang bukan modus operandi klise sebuah album yang basi, karena lagu “Intro” membuka dengan instrumentalia penuh riff yang menghipnotis dan mengantarkan sebuah peziarahan menembus alam antariksa antah berantah, dan lagu “Outro” menutupnya dengan akhir yang mengantarkan sebuah repetisi, kamu dipaksa mengulang dan memutar kembali album ini. Diantara dua gerbang itu album ini dihuni oleh enam materi penggetar selangkangan kelas berat. Lagu panjang macam “Silent Pictures”, “Red River” dan “Center of Everywhere” dieksekusi dengan hingga titik fokus alurnya terjaga dan tak kehilangan arah dengan banyaknya ruang durasi. “Coming Down From Outer Space” adalah heavy as f**k, dari intro-nya nan menjadi macam soundtrack pengantar ketika space shuttle masuk orbit bumi menembus atmosfir dari sebuah misi luar angkasa. “Infinite Skies” yang beratnya menyesak di ulu hati adalah salah satu nomer favorit, bagian ending yang atmosferik dari lagu ini juga favorit personal saya. Yang pasti, bila kamu dalam “pra-kondisi herbal” yang tepat dalam mendengarkan album ini, enam lagu inti didalamnya akan mengayun dalam kepala yang berdenyut dalam hipnosis temporer, far out berat, tanpa terasa durasi 54 menit telah berlalu. Dengan Middle of Nowhere, Center of Everywhere jelas Acid King menunjukkan dan memperkuat kelasnya sebagai salah satu punggawa doom eselon satu, dan dengan Billy Anderson sebagai produser yang juga menunjukkan kerja dan reputasinya sebagai salah satu produser heavy music wahid.

 

Namun dari segala semua itu, sialnya adalah cover art-nya yang dikerjakan oleh Tim Lehi mengandung unsur harimau yang semacam menimbulkan romantisme nostalgia pribadi akan sebuah petulangan musikal saya sebelum ini. Lupakan nostalgia yang memberatkan hati, putar Middle of Nowhere, Center of Everywhere maka harimu akan diisi petualangan psikedelik berat menuju semesta antariksa antah berantah. With his/her heaviness, Acid King, to Infinity and beyond!

[Farid Amriansyah a.k.a Riann Pelor]

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/review-acid-king-middle-of-nowhere-center-of-everywhere.html">
Twitter