5 Favorite Local CD of 2014

Ricky Siahaan [Seringai/Stepforward] membagi 5 CD favoritnya selama tahun 2014. Check it out!
BW

Banyak rilisan lokal yang keren tahun ini. Tapi lima CD ini bisa dibilang yang paling sering terputar di pemutar saya. Racun-racun mereka bekerja dengan manjur di otak saya sehingga menjadi teradiksi untuk terus menikmati apa yang mereka sajikan. Kadang kalau melihat Negara ini tak terlalu banyak yang bisa dibanggakan, sejujurnya bahkan kalau melihat berita, tak jarang saya menjadi stres dan geram. Hal yang menurut saya lumayan bisa menyelamatkan dan mengimbangi adalah musik. Musisi di Negara ini masih banyak yang mampu menghasilkan musik bagus, inspiratif, membanggakan, dan layak diapresiasi. Berikut adalah list pilihan pribadi saya.

Saya suka merasa kalau saya bukan elitis yang suka kalau band menjadi sekecil atau se-underrated mungkin. Sehingga lebih bahagia kalau segelintir orang saja yang mengapresiasi mereka. Instead, saya tipe orang yang ikut senang kalau band yang saya gemari mendapat respons yang baik dari orang yang memang berpotensi suka dengan musik mereka. Senang saja rasanya ngelihat band kesukaan jadi sukses hingga mereka bisa kontinyu berkarya dan akhirnya bisa konsisten mengerjakan passion mereka.

Ini harapan saya. Termasuk juga untuk band-band keren di bawah ini [dan lainnya juga, tentunya].

Kalau anda berminat seharusnya CD-CD yang saya sebut dibawah bisa didapatkan dengan cukup mudah di toko CD atau distro terdekat. Atau silakan cari informasi melalu akun media sosial mereka tentang bagaimana caranya memesan rilisan mereka.

Do support them. They deserve it.

 


taring

TARING Nazar Palagan [Grimloc Records]

Debut yang menggebrak selalu mencuri perhatian. Tahun 2014 ini segerombol perusuh asal Bandung mengoyak tradisi musik hardcore/metal yang umumnya diusung para raksasa luar negeri semacam Hatebreed dan Terror. Dengan modal dasar musik hardcore, dengan lugas mereka mencuri elemen-elemen blues, thrash, lalu seakan semua itu dibaptis dengan asam hidroklorik, maka Nazar Palagan yang dihasilkan. Berisikan lagu-lagu penuh geram seperti “Nazar Palagan”, “Resureksi Diri”, serta “Seperti Tanpa Nyawa”, lagu-lagu dengan tata alur yang inovatif dan berani. Cukup keras untuk memekakkan gendang telinga, namun juga cukup bisa dinikmati tanpa harus membuat segalanya overbrutal. Pas. Nazar Palagan membuat ‘cadas’ adalah kodrat yang patut dibanggakan oleh Taring.


gerram

GERRAM Genderang Bencana [Blacksheep Records]

Kata “Sriwijaya” punya arti: ‘kemenangan yang gemilang’. Siapa sangka seribu tahun lebih kemudian, kota Palembang pun mulai menunjukkan taringnya sebagai kota pencetak band-band cadas yang keren, dan pekerja keras. Akibatnya band-band ini pun mulai berhasil ‘memenangkan peperangan’. Salah satunya adalah band ini. Gerram memainkan dark hardcore punk, yang memiliki influens crust, d-beat, hingga post metal di materi-materi mereka. Kalau Anda penggila Converge, His Hero is Gone, atau From Ashes Rise, mungkin Anda akan suka dengan Gerram dan Genderang Bencana. Seperti bogem mentah mendarat di muka, album ini adalah soundtrack tepat untuk naik pitam.


vague

VAGUE Footsteps [Sonic Funeral]

Vague dan debutnya Footsteps adalah duta yang tepat bagi musik yang merupakan penghormatan terhadap gerakan Revolution Summer di Washington DC di pertengahan 80-an yang menghasilkan band semacam Rites of Spring, Dag Nasty, dan sebagainya. Namun sedikit modernisasi berbentuk indie rock dan juga shoegaze membuat album ini menjadi variatif dan mengesankan. Seluruh instrumen di band ini seakan harmonis bersatu padu mengkomplimen bahana gitar yang berlapis-lapis, di lagu demi lagu berkelana menciptakan suasana yang berbeda-beda. Dalam kancah lokal, entah mengapa tidak banyak band membawakan genre post-punk/post-hardcore yang baik dan benar. Dulu ada band Jakarta bernama Fall di awal tahun 2000-an, kini ada pemain baru yang menyeruak dengan salah satu album Indonesia terpenting di 2014.


bite

BITE Mayday [Don’t Fade Away Records]

Ditinggal setengah personel band biasanya punya potensi sebuah band bubar karena sukar untuk meneruskan. Lain dengan band power pop ini. Ditinggal setengah personel malah yang dihasilkan adalah album kedua yang impresif. Keputusan menarik Andi Hans (Pandai Besi, mantan-C’mon Lennon) adalah tepat, karena Andi Hans membuat eksekusi lagu Bite menjadi penuh dengan isian yang ‘beracun’. Kadang nakal meliuk, kadang dibanjiri efek. Membuat Bite terdengar lebih piawai dalam membawakan pop/indie rock. Anda suka dengan alternative rock/pop 90-an semacam Lush, The Cardigans? Gabungkan dengan gaya slengean Jimi Multhazam di The Upstairs, maka Anda akan mendapatkan Bite. Do check them out!


poto pn buat album

POISON NOVA Circle of Woe [Lawless Jakarta Records]

Musik metal telah menunjukkan genggamannya secara nasional. Bagi saya, sound black/death/thrash terbaik tahun ini jatuh pada para bromocorah dari Cirebon ini. Mendengar Poison Nova, saya bisa membayangkan bahwa band ini punya selera yang baik dalam musik cadas, hingga bisa menghasilkan sebuah debut album yang dibanjiri riff yang mahal dan menghunjam. Ada hawa black death a la Dissection di sana, tapi kemudian menjadi Behemoth ketika melambat. Old school death metal juga menunjukkan rupanya di beberapa bagian. Ketika digabungkan menjadi ciri khas yang mengagumkan. Poison Nova breathe fire!

 

 

 

 

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/reviews/5-favorite-local-cd-of-2014.html">
Twitter