YOUTUBE DJ. TERRORIZING DANCE FLOORS SINCE LAST MONDAY

Siapa yang pernah terpikir untuk memanfaatkan perpustakaan musik Youtube yang tanpa batas untuk dijadikan senjata pemutar musik di pesta-pesta? Kami pun awalnya tidak.

Ini bukan sebuah ide yang gue dan partner in crime gue di Lawless Jakarta dan di band Seringai, Arian13 sudah pikirkan masak-masak sebelum kami akhirnya melakukannya. Semuanya serba kebetulan. Toko Lawless Jakarta di Kemang sering sekali dijadikan tempat tongkrongan seadanya oleh teman-teman dan pelanggan-pelanggan kami. Tak jarang pesta-pesta kecil digelar disini. Mulai dari nongkrong-nongkrong ngebir biasa selesai bekerja, sampai dengan masak-masak barbecue diiringi musik dari speaker-speaker sederhana dan mengundang puluhan sampai ratusan orang untuk bergabung.

Beberapa kesempatan sejenis ini yang bisa gue ingat saat ini adalah salah satunya pada saat malam ulang tahun pertama Lawless Jakarta dan Tattoo. Malam itu beberapa orang teman iseng berkumpul untuk tiup lilin dan potong kue. Setelah beberapa kaleng bir, musik di dalam toko mulai dibesarkan. Sepertinya suasana toko yang semula normal mendadak berubah menjadi sebuah disko darurat. Teman-teman pun lanjut dengan memutar musik via komputer toko yang terhubung dengan Youtube secara bergantian mengikuti “selera buruk”-nya masing-masing. Selera buruk? Ya, karena “Reign In Blood”, “Funky Cold Medina”, dan “DJ Matiin Lampunya Dong” tidak seharusnya berada di dalam satu playlist!

Gue sempat mendokumentasikan malam ini dalam sebuah video singkat berikut:

Saat lainnya yang juga tak kalah seru adalah ketika gue, Arian, dan beberapa orang teman sedang makan malam dan berniat lanjut minum bir di sebuah bar Jerman di daerah Kemang. Selesai makan malam kami mulai sadar bahwa musik yang dimainkan disana kurang enak menurut selera kami. Malam itu adalah Jumat malam, dimana kami belum ingin pulang dan juga malas pindah untuk mencari suasana yang lebih menyenangkan untuk menikmati beberapa gelas bir. Gue bertanya kepada salah seorang waitress, apakah bisa kami memutar musik sendiri dari iPod atau laptop. Iseng saja, sebagai musik latar. After all, this place is a reastaurant and bar. We didn’t expect this place to be all crazy.

Ternyata permintaan kami dikabulkan! Segera gue ambil laptop gue di mobil dan langsung digelar di meja dekat kasir, tempat dimana colokan aux-nya berada. Arian yang memang paling senang untuk “merusak” (baca: membuat menjadi lebih hidup) sebuah pesta dengan lagu-lagunya langsung pegang kendali pertama di depan laptop. Seingat gue lagu-lagu pertama kami bukanlah lagu-lagu pumping yang akan membuat orang untuk berdansa. Gak enak, masih ada yang makan malam haha. Tapi setelah beberapa hits dimainkan, teman-teman dan orang-orang lain mulai mendekat dan area dekat situ tiba-tiba menjadi dance floor dadakan. Ya sudah, kami gas saja dengan lagu-lagu seru nan eclectic pun campur aduk. “Dancing Queen” meets “Livin’ On A Prayer” meets “Clarity”. Kami adalah pelanggan reguler di resto/bar ini, dan baru pertama kalinya gue kesana dan lampu diset sedemikian redup setelah suasana memanas. Sedikit lebih redup dari biasanya. Good luck eating your pork chops in the dark!

Sayangnya gue tidak menyimpan dokumentasi untuk momen ini, tapi ada satu screen shot yang gue ambil dari Instagram salah seorang sahabat, Karina Soegarda:

Lawless_DJ_Youtube_4

Setelah beberapa kali DJ Youtube beraksi secara dadakan, akhirnya Arian ditawari oleh teman-teman penyelenggara private pre-party Soundrenaline 2014 di rooftop sebuah kantor, untuk mengisi posisi sebagai DJ di malam itu. Dia kemudian mengabari gue kalau DJ Youtube yang akan beraksi dan kali ini secara terencana, bukan secara dadakan seperti biasanya. Gue pikir, wah semoga panitianya nanti tidak menyesal haha. Let’s do it!

Lawless_DJ_Youtube_1

Lawless_DJ_Youtube_2

Pada dasarnya kami hanya memutar musik menggunakan laptop secara bergantian atau back-to-back, memanfaatkan koleksi video-video yang ada di Youtube, dengan teknik-teknik mixing yang kasar.  Hambatan yang sebelumnya gue ramalkan akan terjadi akhirnya terjadi juga. Iklan tidak sengaja terputar sejenak, audio yang tidak balance, dan yang paling horor: buffering! Ya, memang internet di negara kita adalah salah satu yang paling lambat di dunia. Aksi ini benar-benar tergantung dari kecepatan internet. Seperti yang Arian bilang sebelum kami mulai beraksi: “Kalau internet lambat berarti we’re fucked. Atau dalam bahasa Indonesia: kami ter-ewe secara tidak sengaja”.

Lawless_DJ_Youtube_3

Tapi diluar itu semua gue rasa justru hal-hal “kacau” seperti itulah yang membuat aksi ini seru, bahkan malah jadi seni dari kegiatan ini sendiri. Asal internetnya gak busuk-busuk amat. Buffering mungkin lucu, tapi kalau buffering terus 10 menit tanpa musik juga berarti bubar pestanya haha. Kami tidak pernah expect untuk main rapih, dan mungkin tidak akan pernah bisa juga, apalagi dengan Youtube. Pada dasarnya memang kami DJ-DJ gadungan dan kami bangga akan itu. Semoga para dewa DJ dan para malaikat lantai dansa mengampuni kekhilafan kami.

Untuk lihat foto-foto acara ini yang jauh lebih pecaaaaah dari foto-foto diatas, silakan klik website iRockumentary disini.

Terima kasih kepada Dimas Ario, Natasha Abigail, dan teman-teman dari Maverick atas kesempatannya. Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan dengan lebih sedikit buffering.

Oleh Sam Bram.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/youtube-dj-terrorizing-dance-floors-since-last-monday.html">
Twitter