YOU CAN NOT RUSH ART (?)

Kenal? Berteman?
Ok, gue kirim sesuai termin di quote ya, mas”. Begitu bunyi pesan BBM gue ke seorang pemain motor lama di luar Jakarta. Excuse the BBM, karena ini memang kejadian tahun 2009. Waktu itu gue direkomendasikan seorang teman yang bilang, “Kalau mau main motor, bangunlah di orang yang tepat, mas”. Gue manut.
Pembayaran awal sudah gue kirim. Setelah lebih dari 4 tahun, dengan berbagai alasan motor gue tidak kunjung jadi. Gue cuma bisa kesal sendiri karena gak pernah ada jalan ketemu. Banyak yang bilang gue terlalu baik udah sabar nunggu. Buat gue ‘you can not rush art’. Betul itu, tapi kita punya batas. Gue gak bikin motor buat kontes. Cukup buat harian tapi pengen yang kastem dan bagus. Akhirnya motor gak pernah selesai dan gue cuma dapat permintaan maaf. Yo wis lah. Cukup kenal. Berteman? Belum tentu.
Kejadian ini bukan hanya sekali ini aja. Gue juga pernah bangun motor di seorang kenalan. Niatnya membantu membesarkan portfolio dia lah. Seleranya boleh, tapi egonya luar biasa. Sensitif kalo dikritik, terus kalo mood-nya jelek, motor gue gak diberesin. Butuh pendekatan semacam ke anak kecil baru dikerjain lagi. Begitu beres, motor cepet rusak. Mengingat doi sensi, gue coba untuk perbaiki ke dia lagi, tapi kudu nunggu 2 minggu buat ngecek kenapa mogok. Karena lama, gue coba handle sendiri ke bengkel yang umum karena kebetulan mesinnya adalah mesin motor biasa. Coba tebak, mekanik umum aja ketawa-ketawa ngeliat jeroan motor gue. Dia bilang, “Tampilan luar boleh, mas, jeroan mah ancur nih.”. Akhirnya pas beres gue jual motornya. Riweuh pisan. Cukup kenal. Berteman? Belum tentu.
Gue yakin kejadian semacam ini pernah terjadi ke kita semua. Gak cuma urusan motor, urusan rumah, urusan kerjaan, mungkin juga urusan pertemanan. Intinya, banyak dari teman-teman kita yang merasa bahwa hasil pemikiran, servis, hasil karya atau produknya sudah yang terbaik dan paling dicari. Kadang suka gak melihat kalau ada yang lebih baik, lebih cepat, atau murah. Jadi kudu gimana kita? Ya gak bisa apa-apa selain saling mengingatkan kalo harga bisa dipotong, kecepatan bisa disaingi, dan kualitas bisa ditingkatkan. Tapi integritas dan kejujuran kita terhadap diri sendiri yang gak bisa orang lain ganggu dan utak-atik.
Gue kasih contoh di Lawless sendiri. Gue selalu berpendapat kalo semua inovasi selalu ada ongkos belajarnya. Masih ingat mobil bernama Outshine? Ini ongkos belajarnya Ucup. Belum pernah ada yang buat yg seperti Outshine. Terlihat sederhana, tapi ongkosnya berkali lipat harga bahannya. Ini harusnya gak terjadi. Kenapa seperti ini? Karena waktu awal-awal dibuat, proses ‘merasa paling bisa’ ini terjadi. Gak ada tuh komunikasi diantara kami tentang apa yang mau kami buat dan di 2 bulan pertama gak ada progress. Gimana sih? Katanya kenal? Katanya mau berteman? Ternyata Ucup sedang riset, tapi karena gak komunikasi, kami semua bingung. Sedangkan uang udah keluar banyak.  Ternyata konsep awal Outshine gak bisa dilakukan simply karena Ucup gak bisa melakukannya, Nanya ke yang udah buat gak pernah ada jawaban dan dia juga punya ego kalo dia buat harus yg ‘wow-factor‘-nya tinggi. Nah, karena komunikasi gak bagus, jadinya kami bertanya-tanya, jawabannya pun selalu formal yang mungkin tujuannya menenangkan kami yang di dalam konteks ini adalah ‘klien’-nya, tapi jadinya malah miskom. Katanya semua baik-baik aja, kok lama? Untung Ucup sebagai kepala builder-nya gak butuh sampe 4 tahun untuk akhirnya berkomunikasi dengan terbuka. Setelah kami rembukan, akhirnya proses komunikasi yang baik itu menjadi regulasi. Dan projek Outshine pun berjalan dengan baik.
Lawless_Rush_Art_3
Lawless_Rush_Art_2
Lawless_Rush_Art_1
Ini yang akhirnya yang menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu komunikasi dengan baik ke klien. Walaupun kenyataannya kami masih banyak cacat. Harus kami akui di beberapa hal banyak yg masih harus kami sempurnakan.
Gue tulis agar kita semua saling mengingatkan dan sekaligus bentuk ucapan terimakasih untuk banyak rekan yang telah membantu memecahkan masalah-masalah yang gue hadapi. Gue kenal kalian dan terimakasih untuk jadi temen gue.
Oleh Roni Pramaditia.
Photo Outshine di SCOTY 2013 diambil dari website Forstand Projekt.
Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/you-can-not-rush-art.html">
Twitter