THE EVERLASTING QUEST ON FORM FOLLOWS FUNCTION

383e1b1e92d4d2d280197c2862f1862e

Terminologi “Form Follows Function” pertama kali diperkenalkan oleh Louis Henry Sullivan, seorang arsitek di era awal abad ke-20. Sullivan sangat percaya bahwa bentuk dan design dari setiap bangunan harus memiliki hubungan langsung dengan tujuan dan fungsi bangunan tersebut. Pemahaman tersebut juga dipegang teguh dan di aplikasikan oleh Sullivan dalam setiap karyanya yang terdiri dari sekitar 200 konstruksi bangunan dan pencakar langit yang tersebar di benua Amerika.

Dalam perkembangannya terminologi ini juga banyak dijadikan pegangan oleh generasi arsitek modernis dan juga menyebar ke ranah disiplin desain lainnya.

Begitu pula dalam hal memodifikasi motor atau custom motorcycles, terminologi form follows function banyak diaplikasikan oleh para builder di seluruh dunia dalam proses kreatif mereka ketika menyusun konsep dan design motor custom garapan mereka.


 

PENTING ATAU TIDAK?

Memang sih, banyak yang beranggapan kalo custom itu sama dengan kebebasan berkreasi, dalam hal ini tidak ada yang salah atau benar. Semua sah-sah aja, selama karya yang dihasilkan terlihat cakep dan (semoga) bisa dikendarai. Toh memang tujuan dari meng-custom motor adalah untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada, paling tidak supaya motor tersebut bisa stand out di lautan motor standar keluaran pabrik. Beberapa orang mungkin akan berargumen bahwa buat mereka look adalah segalanya, sedangkan beberapa yang lain mungkin akan berpendapat bahwa kalo motornya tidak bisa berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, maka tidak sempurna lah value dari motor itu sendiri.

Dari hal-hal diatas, maka yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, penting ga sih mengaplikasikan paham form follows function dalam motor custom?

Buat gue pribadi, jawabannya adalah penting!! Kenapa, karena buat gue motor bukan sekedar hobi yang gue dapat turun temurun dari orang tua dan kakak-kakak gue atau sekedar untuk terlihat keren. Motor adalah salah satu bentuk transportasi pilihan gue, sekaligus media gue untuk merepresentasikan siapa gue. Idealnya sebuah motor custom harus bisa meng-cater preferensi pribadi sang owner akan aliran modifikasi yang ia sukai, riding habit si owner, dan nilai estetika si owner dan buildernya. Beberapa hal tersebut diatas idealnya harus bisa bersanding menjadi suatu karya yang memiliki value lengkap sebagai sebuah motor custom.

Sederhananya gini aja deh, ambil contoh motor-motor Harley Davidson tipe touring atau yang umum dikenal sebagai bagger. Secara bentuk standar keluaran pabrik aja, motor ini memang di-design nyaman, dengan mesin dan kelengkapan yang mumpuni untuk menempuh perjalanan jarak jauh. Ketika dipasarkan di Indonesia, khususnya Jakarta dengan kondisi lalu lintas yang semrawut dan super padat, maka secara logis tipe ini bukanlah pilihan yang tepat. Belum lagi mesin Harley yang menggunakan sistem pendingin udara, kondisi jalanan macet stop and go akan berpengaruh pada performa mesin dan membuat mesin motor gampang over heat. Belum lagi masalah handling motor sebesar itu apabila dikaitkan dengan kondisi lalu lintas semrawut sehingga diperlukan banyak manuver dalam berkendara dan proporsi tubuh rata-rata orang Indonesia. Tapi toh pada kenyataannya, tipe touring adalah tipe yang paling laku di Indonesia termasuk di Jakarta. Agak membingungkan memang, tapi itulah faktanya. Padahal apabila melihat kondisi jalanan dan traffic Jakarta dan paham form follows function tadi, seharusnya tipe Dyna atau Sportster adalah yang paling ideal. Entah karena harga tipe touring yang rata-rata diatas harga tipe Harley Davidson yang lain sehingga bisa memberi value tertentu pada orang-orang tersebut atau karena mereka tidak mau dicela oleh teman-teman “geng”-nya apabila memakai tipe Sportster (dianggap) sekelas dengan pake motor (Honda) Tiger misalnya. Yang pasti, kalo dikaitkan dengan kondisi traffic Jakarta, motor-motor tipe touring ini bisa dibilang “gagal” berfungsi sebagaimana mustinya. Beda cerita kalo pemiliknya memang seorang penggila touring jarak jauh, yang rutin dan hanya menggunakan motornya untuk touring luar kota. Yang semakin “unik”-nya lagi, belakangan mulai berkembang aliran custom bagger di Indonesia. Proporsi motor yang sudah besar, di-custom sedemikian rupa agar terlihat lebih, baik dari ukuran velg yang digunakan, penggunaan body kit/custom, ground clearance super ceper dan penggunaan berbagai pernak-pernik lainnya. Dimensi asli motor bawaan pabrik aja sudah cukup menyulitkan untuk digunakan di Jakarta, apalagi bagger custom yang notabene dimensinya menjadi lebih besar. Belum lagi untuk dipakai touring luar kota, yang ada malah lebih ribet dan bahaya, yah bisa dibilang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Lawless_Form_Function_2

But then again, setiap orang punya preferensi masing-masing akan apa yang keren dan apa yang tidak (keren), mungkin saja motivasi utama mereka dalam memodifikasi motor mereka memang untuk show bike dan trailer queen. Bisa aja mereka juga kalo ngeliat anak-anak yang pake motor rigid, suicide clutch/jockey shift, tanpa rem depan akan mikir ini orang-orang maunya apa sih, naik motor kok dibikin ribet hahaha.

Memang, memadukan kedua hal tersebut tidak semudah kencing sambil lepas tangan, apalagi kalo urusannya udah berhubungan sama client. Banyak kasus dimana pengalaman dan masukan dari builder dianggap angin lalu oleh client. Biasanya mereka mikir, motor-motor gue, duit-duit gue, mau gue bikin jadi apa juga ya terserah gue dong, tugas lu (builder) hanya ngerjain sesuai kemauan gue. Padahal, biasanya sang builder sudah mempertimbangkan banyak faktor dalam menyusun konsep sebuah motor custom, walaupun ada juga yang engga sih. Termasuk faktor safety, kenyamanan berkendara dan nilai estetis motor tersebut.

Lawless_Form_Function_1


 

BATASAN BENAR ATAU SALAH

Kembali ke faktor form follows function, bahkan seorang arsitek kondang yang pernah bekerja di firma milik Sulllivan, Frank Lloyd Wright berpendapat bahwa “Form and function should be one, joined in a spiritual union”. Sebenarnya kita ga bisa juga menghakimi benar atau salah, karena balik lagi semua itu kembali ke preferensi pribadi tiap individu. Misalkan kita ambil contoh lagi, motor yang di custom ala chopper psikadelik 70-an, front end panjang, ban depan kurus, rabbit ear handlebar, king and queen seat dan frame rigid. Sebenernya kalo ditarik dari faktor safety lagi, untuk kondisi lalu lintas yang padat, jangankan seperti di Jakarta bahkan di kota-kota besar di Amerika sekalipun, modifikasi seperti itu sudah tidak lagi ideal untuk dikendarai. Tetapi apabila si pemilik motor memang seorang pehobi motor berpengalaman yang skill berkendaranya juga sudah sangat mumpuni dan sudah bertahun-tahun mendalami dunia motor custom, faktor safety bukan lagi hal yang signifikan buat mereka. Karena mereka juga sudah pasti bisa menakar skill berkendara mereka dan tau betul cara meng-handle motor dan apa yang mereka inginkan dari kendaraan mereka. Atau misalnya, rubahan ala cafe racer yang lagi naik daun beberapa tahun belakangan ini. Rubahan yang fokus di performance ini biasanya mencopot bagian-bagian yang fungsinya tidak terlalu signifikan untuk mengurangi bobot motor, menggunakan rear section ringkas (atau yang disini lebih dikenal sebagai buntut tawon), menggunakan setang clubman atau clip on untuk riding position dan handling yang lebih mantab dan tentu saja mendongkrak kapasitas mesin motor. Tujuannya tidak lain adalah untuk menunjang aktifitas balap jalanan yang digemari oleh para rockers atau yang kerap disebut ton up boys ini. Semua rubahan yang di aplikasikan pada sebuah motor cafe racer dilakukan berdasarkan pertimbangan fungsi. Tetapi untuk kebanyakan pengguna motor cafe racer di Jakarta, mungkin 90 persen hanya sekedar mengejar look-nya saja. Ga ada yang salah sebenernya, itu sah-sah aja, selama mereka tahan berkendara menembus traffic Jakarta dengan riding position menunduk bak pembalap motoGP, toh motor-motor sport keluaran pabrik yang banyak beredar juga mengaplikasikan riding position menunduk.

Lawless_Form_Function_13

 

Lawless_Form_Function_11

Lawless_Form_Function_9

Intinya, menukar kenyamanan berkendara dengan look atau performa adalah salah satu hal lumrah di kalangan pelaku custom. Satu contoh lagi misalnya dalam gaya modifikasi lain yang dikategorikan sebagai “bobber“. Gaya modifikasi ini sejatinya memiliki fungsi dan tujuan mirip seperti cafe racer. Body parts yang dirasa tidak terlalu penting dipotong (bobbed) atau bahkan dicopot dengan tujuan juga untuk meringankan bobot motor. Sejatinya gaya modifikasi ini juga peruntukannya untuk balap jalanan yang mulai berkembang di Amerika pada era 50-an sampai 60-an oleh para greaser. Sedikit berbeda dengan cafe racer, apabila cafe racer banyak menggunakan motor keluaran Inggris Raya seperti Triumph, Norton dan BSA dan lintasan balapnya adalah jalanan berliku kota London, sedangkan untuk bobber, mayoritas menggunakan motor produksi Amerika seperti Harley Davidson dan Indian yang dimensinya lebih bongsor dan lintasan balapnya adalah jalanan kosong lurus atau padang garam yang banyak didapati di Amerika. Bisa dibilang kalo di Amerika balapnya lebih seperti drag race, sementara di Inggris balapnya lebih seperti balap sirkuit. Satu kemiripan yang signifikan dengan aliran cafe racer, rubahan yang dilakukan pada motor bobber juga berfokus pada fungsi, dimana selanjutnya faktor design dan nilai estetisnya mengikuti dan malah menjadi signature look untuk kedua gaya modifikasi tersebut. Jadi harus diingat lagi, bahwa bobber tidak sekedar mengaplikasikan ban gendut depan-belakang atau cafe racer tidak sekedar mengaplikasikan buntut tawon dan setang clip on, tetapi berakar dan berpegang pada terminologi form follows function itu tadi.

Lawless_Form_Function_10


 

MODIFIKASI YANG IDEAL UNTUK JAKARTA

Dari penjelasan diatas, maka pertanyaan yang akan muncul berikutnya adalah, jadi untuk kondisi jalanan dan lalu lintas Jakarta, aliran modifikasi yang ideal yang seperti apa sih? Idealnya aliran modifikasi yang cocok untuk kondisi Jakarta adalah modifikasi yang memiliki durabilitas tinggi, ground clearance cukup tinggi (untuk melewati genangan air dan banjir di musim penghujan) dan memiliki handling yang mudah diajak manuver. Untuk bentuknya harus seperti apa sih ga ada pakem yang salah atau bener. Tapi memang untuk gampangnya, kalo memang harus di kotak-kotakan, aliran modifikasi ala (dirt/street) tracker, bobber, chopper ramping dan cafe racer masih bisa dibilang ideal untuk melibas jalanan Jakarta. Atau bisa juga perpaduan dari beberapa aliran tersebut yang disini kerap disebut sebagai brat style atau jap style itulah (untuk urusan brat/jap style ini gue gak perlu menjelaskan panjang lebar lagi ya, karena sudah pernah dikupas di salah satu artikel di blog Lawless juga).

Lawless_Form_Function_7

Lawless_Form_Function_5

Lawless_Form_Function_6

Itu baru ngomongin gaya/aliran modifikasinya aja terkait dengan kondisi jalan dan traffic di Jakarta. Belum lagi pertimbangan riding habit si pengendara. Apakah dia sekedar penikmat motor akhir minggu atau pengendara yang menggunakan motornya sebagai daily commuter on a regular basis. Atau apakah dia lebih senang berkendara jarak jauh dan menempuh medan off road atau dia seorang speedfreak yang sangat menyukai adrenaline rush ketika melahap tikungan atau nyelip di antara dua mobil dalam kecepatan tinggi.

Lawless_Form_Function_15

Lawless_Form_Function_3

Menarik faktor-faktor diatas tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam meng-custom motor kita dan mengaplikasikan paham form follows function tadi menurut gue pribadi adalah salah satu fase krusial dalam mewujudkan motor custom impian kita. Setelah itu semua selesai, tinggal urusan memadu padankan look atau tongkrongan motor yang bisa mengacu pada personal preferences kita. Misalnya chopper ramping, frame rigid tapi menggunakan setang clip on ala cafe racer, atau tongkrongan bobber/tracker yang dikombinasikan handlebar mini ape hanger atau Z-bar ala chopper 60-an-70-an. Semuanya sah saja di kombinasikan dan di padu padankan sesuai dengan preferensi pribadi dan nilai estetis yang dikejar.

Lawless_Form_Function_4

Kembali lagi, yang namanya custom itu kan ya bebas-bebas aja, terserah si pemilik motornya. Yang penting rubahan tersebut tidak mengurangi fungsi motor sebagai salah satu moda transportasi, dan tentu saja tetap terlihat keren dan berbeda dari motor kebanyakan. Tapi itupun masih pendapat subjektif gue pribadi, kalo kalian nyaman dengan berkendara dengan motor bagger super ceper atau chopper rigid dengan suicide clutch dan jockey shift dan keribetan saat ketemu jalanan berlubang atau polisi tidur ya terserah aja. Asalkan itu bisa membuat kalian tersenyum disaat berkendara bersama riding buddies kalian maka itu (sebenernya) sudah cukup.

 

Oleh Wra Bakti dari SSMC.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/the-everlasting-quest-on-form-follows-function.html">
Twitter