STREET GIG

lawless_street_gig_2

Era 90an adalah era kebangkitan musik indie lokal Indonesia khususnya Jakarta, dimana venue-venue gig semacam Harley Davidson cafe, kafe Kupu-Kupu, M Club, Lipstick Cafe sampai CBGBnya Jakarta, Poster Cafe menjadi langganan tempat acara untuk musik-musik ‘bawah tanah’. Band-band yang manggung di tempat tersebut kebanyakan bergenre HC, Punk, Grunge, Ska dan Indies (gak tau kenapa nama Indies berubah menjadi Britpop dan kemudian sekarang lebih dikenal sebagai Indiepop) dimana pada saat itu mereka berlomba-lomba ingin unjuk gigi di acara-acara tersebut, bahkan anehnya pada masa itu dibuka pendaftaran untuk menjadi band featuring. Kasarnya, bayar uang ke panitia buat bisa manggung.

Band-band kecil yang belum punya nama akan susah untuk manggung, apalagi semakin hari, cafe-cafe yang jadi langganan untuk bikin gig tutup satu persatu karena bangkrut. Memang, diakui kalau bikin gig dengan genre semacam ini susah untungnya bagi pemilik cafe, selesai acara pasti ada sound yang rusak,  terlebih lagi minimnya apresiasi para pengunjung yang datang untuk membeli tiket, sore dikit, minta jebolan. Tiket aja susah, apalagi beli minuman di dalam?

Awal tahun 2000, Melihat kondisi ini, gue dan temen-temen gue yang biasa nongkrong di taman Suropati dan Jembatan Merah Saharjo kangen akan acara-acara model tersebut. Lalu kepikiran lah untuk bikin acara iseng-iseng sendiri, awalnya ide kasar “Eh, bikin gig yuk dipinggir jalan, seru kali ya?” lalu  berlanjut ke diskusi dan ngumpulin alat band. Yang punya drum, gitar, bas, ampli, mic, dll, dikumpulkan jadi satu. Kami pun mulai hunting tempat yang enak untuk menggelar konser dadakan di pinggir jalan. Tempat pertama yang kami temukan adalah di samping Bidakara, Pancoran. Minggu depannya, akan mulai Street Gig pertama kami. Excited!

Ketika hari H, alat-alat sudah dikumpulkan dan sudah dipasang di atas trotoar, band yang manggung saat itu ada Snacky, Quarter Out, Social Distrust, dll. Ketika band pertama mulai memainkan lagu pertamanya, tiba-tiba datang sekelompok pemuda yang memakai sorban membubarkan paksa gig kami. Kami pun enggak bisa ngelawan, karena selain kalah jumlah, kami juga enggak punya dasar hukum kuat soal izin dari pihak kepolisian. Kami mulai membereskan alat-alat band, menaruhnya di rumah salah seorang teman lalu pergi ke Taman Suropati.

Kekecewaan pun datang, tapi kami tidak menyerah.

Konsolidasi ke dalam, memikirkan strategi-strategi jitu untuk memulai membuat gig baru dengan model “gerilya”. Lalu teman-teman nongkrong di Jembatan Merah yang notabenenya kebanyakan anak Punk, punya ide untuk manggung di jalanan pasar Jembatan Merah. Yup manggung di pasar. Kebetulan salah satu teman kami bernama Dekoy, kalau siang berjualan sayur di lapak di pasar tersebut. Anak punk jualan sayur dengan rambut mohawk, canggih. Lapak dia kita pinjam pada malam hari ketika malam minggu. Alat-alat dikumpulkan di depan lapak tersebut, listrik sudah tersedia dari lapak dan satu persatu band perform. Ada The Borstal, Agressor, The Stupid, No Comment, The Frontier, The Brain, Proletar dan Social Distrust.

Seketika lapak pasar disulap jadi Street Gig.

Semenjak itu, kami mulai rutin sebulan 2 kali membuat Street Gig di pasar Jembatan Merah Saharjo. Selain Jembatan Merah, kami mulai berekspansi mencari ‘trotoar’ baru untuk Street Gig, tempat kedua yang kami buat berada di samping Pasar Festival (sekarang Plaza Festival), kaderisasi sangat diperlukan dalam pembuatan Street Gig, mendekati akamsi (anak kampung sini) sangat perlu. Karena jika ada pihak berwajib yang datang, temen-temen akamsi akan membantu menyelesaikan. Street gig pertama di tempat ini berhasil, lalu jalanan Pasar Festival menjadi tempat Street Gig baru kami.

Band-band yang manggung di Street Gig kami sudah semakin banyak, sudah mulai mengundang band-band di luar tongkrongan kami bahkan kami pernah mengundang band Grindpunk asal Jerman, Wojczech. Wojczech sangat antusias ketika tahu akan perform di jalanan, bahkan sang drummer membantu menyambungkan kelistrikan dari sound dengan memanjat tiang listrik.

Street Gig sudah mulai populer, teman-teman di daerah lain juga bikin hal yang serupa, mereka mulai bikin gig di pinggiran rel kereta api Jatinegara (lapak Iil), Kebon anak-anak Miracle Ciledug, jalanan depan Kampus Perbanas, jalanan di seberang Universitas Pancasila, dll, bahkan di seberang Universitas Pancasila ini pernah manggung musisi Ballad-Punk asal Australia, Steve Towson.

Sekarang ini gue sendiri sudah kurang aktif mengikuti perkembangan Street Gig, tapi dari informasi teman-teman, Street Gig saat ini sudah tidak seramai dulu, yang masih aktif cuma di daerah Jatinegara dan daerah Tangerang.

Street Gig itu sendiri sebenarnya adaptasi dari kultur band-band HC/Punk di luar negeri yang manggung di garasi atau di studio band dengan konsep Player Watch Player, band yang main juga enggak banyak. Karena jargon DIY (Do It Yourself) bukan sekedar kalimat template keren-kerenan atau sekedar tagline wajib pada lirik lagu.

Daripada nunggu gig, mending bikin.

Gofar Hilman

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/street-gig.html">
Twitter