STRAIGHT EDGE: GOOD OR TOO MUCH?

Lawless_sXe_1

Oke, kesampingkan dulu pikiran stereotype kalian tentang anak-anak musik cadas yang identik dengan drugs, alkohol dan sejenisnya, karena saya akan berbicara tentang Straight Edge.

Sebelumnya, saya mau jelaskan sedikit apa itu Straight Edge. Straight Edge lahir di awal tahun 80an dalam sub kultur Hardcore/punk. Kemuakan sekelompok anak muda akan situasi dimana teman-teman dan saudara-saudara mereka meninggal karena drugs. Aksi pemberontakan untuk menolak drugs ini semakin kuat ketika bermunculan band-band seperti Teen Idles dan Minor Threat yang bersuara tentang gaya hidup baru yang lebih sehat.

Kaum Straight Edge biasanya menandai punggung tangan mereka dengan simbol “X”. Penandaan simbol ini berawal di sebuah club bernama Mabuhay Gardens, San Fransisco dimana Teen Idles akan manggung, pihak club memberikan  tanda “X” di punggung kedua tangan mereka sebagai tanda masih dibawah umur, dan pekerja di club tersebut tidak diperbolehkan memberikan alkohol kepada mereka. Kebiasaan ini mulai diikuti oleh club-club lainnya dan dalam beberapa tahun tanda “X” di tangan menjadi simbol yang pride untuk kaum Straight Edge.

Straight Edge adalah sikap politis, paham dimana anda memilih komitmen untuk hidup sehat, tidak mengkonsumsi drugs, alkohol, tidak merokok dan tidak melakukan seks.

Yang jadi sorotan saya soal komitmen Straight Edge adalah bukan di anti drugs/alkohol dan anti rokoknya, tapi di permasalahan seks. Masa iya kultur barat yang notabenenya sangat liberal tapi mengumandangkan hal tersebut? Secara harfiah, Straight Edge memang seperti itu. Mungkin dasar ideologi tersebut ada karena  penggalan lirik Minor Threat – Out of Step “I don’t drink, I don’t smoke, I don’t fuck”

Kalau begitu, saya akan kaji penggalan lirik sehat tersebut dengan akal sehat saya.

I don’t drink: Saya tidak mau minum-minuman beralkohol.

I don’t Smoke: Saya tidak mau merokok.

I don’t fuck: Saya tidak melakukan seks! Eh, tapi..

Berpacu dalam konteks Anti-Promiscuity yang dalam benak kita pasti terpikir hipokrasi dan irrasional. Karena pada kenyataannya ternyata Anti-Free Sex pada Straight Edge menurut saya adalah satu-satunya self rule yang “bisa dikondisikan”. Dari pengakuan temen-temen Straight Edge yang saya kenal, ada yang tidak melakukannya sama sekali sampai nikah, ada yang melakukannya hanya sama pasangannya saja, dan ada juga yang melakukan casual-sex atas dasar suka sama suka. Well, seks itu pilihan. Pilihan yang susah untuk ditolak.

Di Indonesia, ideologi Straight Edge dimulai pada awal tahun 90an, dimana band-band Straight Edge bermunculan seperti Straight Answer, Thinking Straight (Jakarta), Blind To See (Bandung) dan Violent Order (Malang). Pengaplikasian Straight Edge di Indonesia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh faktor agama yang kental akan pelarangan serupa dan dikembalikan lagi pada kontrol individu masing-masing.

Pada tahun 2002 saya sendiri pernah bermain drum untuk salah satu band Straight Edge di Jakarta, pada tahun 2006 saya memutuskan untuk keluar dari band tersebut karena pada akhirnya saya merasa tidak nyaman. Di panggung mereka selalu bersuara tentang Straight Edge, sedangkan saya di belakang drum dalam keadaan mabuk :p

Straight Edge di Indonesia sekarang ini semakin banyak jumlahnya, mereka tidak berkubu dan tidak bergaul secara eksklusif. Fenomena aneh dan lucu yang terjadi di Indonesia saat ini adalah Straight Edge seringkali disangka brand/merk clothing, dengan banyaknya pertanyaan “beli merch Straight Edge dimana ya?”. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi atau memang pada dasarnya orang tersebut nyaman di fase poser, tidak mau mencari tahu arti dari filosofi Straight Edge itu sendiri.

Bersuara tentang hal yang anda yakini itu sah-sah aja, asal fanatisme anda tidak berlebihan bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengan anda adalah musuh. Seperti sekelompok Straight Edge militan di Boston yang menamakan diri mereka FSU (Friends Stand UP), mereka memukuli orang-orang yang mabuk, merokok atau mengeroyok orang yang habis pulang party dari night club. Kemudian pada akhirnya FSU ini sendiri malah dibenci di  skena Straight Edge itu sendiri. “Friends Stand Up turned out to be Fuck Shit Up

Berlebihan tidak sih ketika ada sekelompok anak Hardcore/punk yang berbicara tentang hidup sober? Mereka sok suci? Atau merasa orang yang paling bener? Jawabannya adalah tergantung. Kalau soal band Straight Edge yang membuat lirik lagu dengan menyuarakan hidup sober atau memakai kaos bertuliskan “Smoking Isn’t Cool Anymore” tapi mereka tetap menghormati kawan-kawannya yang bukan Straight Edge, itu bagus. Akan berlebihan ketika mulai melakukan tindakan-tindakan disrespect seperti yang dilakukan kelompok FSU di Boston. Intinya adalah menghargai satu sama lain.

Saya sendiri salut sama orang yang punya komitmen dan menjalani komitmennya itu sampai saat ini. Karena menurut saya, komitmen itu tidak sekedar komat-kamit, tapi harus komit.

Gofar Hilman

[As published on the newest edition of Esquire]

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/straight-edge-good-or-too-much.html">
Twitter