SOME PEOPLE ARE SO POOR, ALL THEY HAVE IS MONEY

Untuk kali ini gue mau ngajak para pembaca blog Lawless yang budiman untuk mengamati gambar di bawah ini. Foto ini diambil oleh seorang kawan yang menghadiri sebuah acara permotoran di sebuah kota besar di negeri kita tercinta ini. Ada yang aneh? Menurut kalian, bercerita tentang apa gambar ini? Kita analisa bareng yuk.

Lawless_Kid_On_HD_1

Kalo tebakan pertama kalian si pengendara terlihat semacam anak bawang, dugaan kalian tepat! Yup, konon anak ini baru berusia 12-13 tahun. Seorang bocah yang masih ingusan dibelakang kendali motor yang sangat besar (dan mahal) untuk ukuran tubuhnya. Masih berasa janggal? Pengen marah? Tunggu dulu… Coba kita telaah lebih dalem lagi.

Coba lihat motornya deh, kalau tidak salah, itu adalah H-D Sportster Seventy Four keluaran ’13 atau ’12 yang cukup baru. Kemudian tengoklah selera berpakaian bocah ini, masih kecil kecil udah dipakein rompi-rompian dan boots lancip macam koboi wild-wild-west. Selera pilihan bapaknya? Kalo anak-nya yang baru akil balik ini diberikan H-D Sportster terbaru, kebayang ga koleksi motor bapaknya sebanyak apa? Sekaya apa yah beliau?

Melihat semua itu (pemilihan model motor dan selera pakaian) gue menduga sang ayah merupakan orang kaya baru, bukan orang yang dulunya sudah berasal dari keluarga berada. Kalo kaya-nya udah lama, kemungkinan besar motor-nya H-D Evolution atau bahkan Shovelhead. Ha! Prasangka baik gue mengatakan bahwa kekayaannya merupakan hasil keringat dan jerih payahnya sendiri, dan kemungkinan beliau sangat-sangat sibuk di ranah pekerjaan. Saking sibuknya, sepertinya waktu yang dihabiskan untuk keluarga (dalam konteks ini gue mengarah ke bocah laki-lakinya) sangatlah sedikit.

Bingung apa hubungannya?

Dengan dalih mencari uang untuk menghidupi anak-istri, sang ayah menghabiskan mayoritas waktunya jauh dari tujuan utamanya. Bonding time dengan anak sangatlah minim sehingga dengan dalih KOMPENSASI, permintaan anak (atau mungkin bapaknya yang memaksakan niat) untuk sebuah “maenan” dituruti dengan membabi buta. Kembali dengan alasan kompensasi, dan pembenaran “biar bisa jadi temennya anak”) segala kemauan dikabulkan tanpa kontrol berarti. Anak masih piyik minta motor gede? Kasih! Mau riding sendiri di jalan raya? Ijinin! Bocahnya yang masih dibawah umur ngerokok depan umum, di depan teman-teman bapaknya, ga ditegor, dengan alasan daripada ngerokok di belakang bapaknya. What the fuck?!

Don’t get me wrong, SEMUA orang melakukan kompensasi ini ke keluarga masing-masing.. Bapak pulang kantor agak malem, beliin mobil-mobilan buat anaknya.  Suami pulang riding sama temen-temen, beliin martabak buat istrinya. Semua orang berkompensasi dan berkompromi dengan keluarganya, ga beda jauh dengan apa yang dilakukan bapaknya si bocah di atas.. Tapi apa yang menjadi kompensasi itulah yang membedakan.

Gue yakin para pembaca yang budiman pengen yang terbaik buat keluarga dan anaknya, and I am damn sure all of you wanted a bad ass kid! Tapi semua itu kan ada tahapannya, dan gak bisa sertamerta disamakan dengan apa yang kita lakukan sebagai individu dewasa. Setiap manusia pada kodratnya memiliki tingkat kematangan emosi dan tanggung jawab yang berkembang dan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Pertumbuhan inilah yang harus disesuaikan dengan minat anak dan keinginan orang tua.

Mungkin kegilaan akan kendaraan roda dua dalam hidup gue sudah dimulai dari selepas ulang tahun pertama gue. Vespa elektrik kado ultah pertama udah jebol sebelum ultah kedua karena kurang kenceng dan gue gowes manual. Haha, FTW! Tapi itu ga berarti gue udah nge-gas H-D FXR setelah gue selesai belajar jalan juga kan? Ngajak anak demen motor kan ga ujug-ujug anak loe diajak riding bareng tho? Naek BMX bareng bocah, stunt ato dirt race, diajak maen ke bengkel-bengkel modif, ngoprek bareng di rumah, bacain majalah motor custom sebelum bobo, ato worst scenario: nemenin anak balapan di sirkuit resmi lah. Those are the things i adore, quality times with the kid. Lagipula, dalih riding bareng ama anak kayaknya agak masuk akal saat mereka masih terhitung belum cukup umur. Pernah nyoba ngobrol pas lagi diatas motor? When you ride, its just you, your bike, and the road ahead! Ga mungkin ngemong anak sambil bawa motor kan?

Kita semua sayang sama keluarga kita. Ga ada yang bisa menyangkal itu. Kita ingin memberikan yang terbaik buat keluarga kita. Tapi ingat, yang terbaik itu bukan sekedar uang yang melimpah.

Oleh Rizky Mandra dari SSMC.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/some-people-are-so-poor-all-they-have-is-money.html">
Twitter