SEDIA PAYUNG SEBELUM RIDING

Tidak lama sebelum gue nulis artikel ini, terdengar 2 berita duka cita yang bersumber dari kecelakaan lalu lintas yang melibatkan rombongan Motor Besar (konon bahasa media-nya Rombongan Moge). Saat pertama denger berita ini, banyak perdebatan yang terjadi dalam diri gue, sebagian menyalahkan rombongan yang menabrak, sebagian kasihan dengan pihak yang menjadi korban, sebagian menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sampai berdebat? Karena banyak sekali kemungkinan-kemungkinan penyebab insiden itu terjadi, dan sering kali para pengendara motor (baik yang bawa motor besar/motor hobby dan juga motor-motor kecil) sering lupa apa yang musti mereka persiapkan, baik mental, skill, maupun juga materi.

Contoh paling mendasar yang paling sering gue (dan pastinya loe semua) liat adalah, BANYAKnya pengendara motor yang meneduh di pinggir jalan (seringkali di bawah jembatan) dan memakan sebagian besar badan jalan yang seharusnya bisa dilalui kendaraan lainnya. Alasan yang paling banyak keluar dari mulut pengendara itu adalah: “Wah, saya ndak bawa jas hujan mas..” Menurut gue, itu adalah alasan *maaf* bulls#!t yang paling ga masuk akal. Semua orang bisa lihat kalo pengendara sepeda motor berada diluar/diatas kendaraan yang dikendarai. Kemungkinan untuk terpapar cuaca, baik panas ataupun hujan, sangatlah besar. Sudah sepantasnya seorang yang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi mempersiapkan sebuah jas hujan untuk mengantisipasi cuaca. Bukan sekedar mencari aman, lari dari kenyataan hujan, dan menyusahkan orang lain.

Ada lagi kondisi yang cukup sering ditemui adalah orang-orang yang mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan Helm/pelindung kepala. Kalo ditanya, alasannya pasti: “cuma deket kok..” atau “jalannya pelan-pelan kok..” Sepertinya masih banyak yang belum sadar, kalo di sekitar kita belum ada yang jual nyawa secondhand lho! Di saat kendaraan di jalankan dalam kecepatan 30 km/jam (dimana banyak orang yang bilang kalau itu pelan), kita bergerak sejauh 8,3 meter dalam waktu 1 detik. Dalam sekejap mata, kita bergerak sepanjang 2 mobil minibus ukuran sedang. Dengan kondisi lingkungan yang dipenuhi dengan pengendar motor lain yang seliweran ga jelas, pengemudi kendaraan umum yang suka berbelok seenak jidatnya, kebutuhan kita untuk melindungi diri (terutama kepala) sangatlah besar dan penting.

Di sisi lain dari pengendara motor, yaitu para penikmat motor tua/motor hobby/motor besar, banyak juga yang melupakan rentetan panjang kebutuhan ini dan itu, setelah membeli/memilih motor idaman. Idealnya, motor tua/motor hobby dapat perform sebaik/melebihi motor baru/motor yang digunakan sehari-hari. Namun, seringkali para pemilik motor-motor tersebut untuk agak “pelit”, memilih untuk mengakali problema yang (sering) dihadapi, dan puas dengan solusi sementara. Seorang teman yang cukup lama bergelut di dunia motor tua, berujar kepada salah satu pelanggannya yang menanyakan apakah motor tua yang dibawanya bisa hidup: “motor loe sih bisa di-idupin, tapi nantinya, loe bisa ga ngidupin sendiri?” Agak bodoh kalo setiap kali kita ingin jalan-jalan menikmati cuaca sore mengendarai kuda besi kesayangan, kita harus mendatangkan mekanik, minta ditemani karena takut motor mati di jalan, dan kita ga bisa ngapa-ngapain. Jajan sedikit materi untuk karburator dan sistem pengapian/pengisian baru,  mampu memberikan keyakinan dalam hati bahwa motor yang kita kendarai dalam kondisi ideal, siap dikendarai kapanpun kita mau. Kalo anak-anak Tebet bilangnya: “yakin nge-gas coy..!!”

Setelah semua persiapan fisik dan materi dipenuhi, persiapan mental dan riding skill juga perlu dipertimbangkan. Banyak cerita “on the road” yang muncul saat dan sepulang dari perjalanan jauh keluar kota, ataupun berkendara di kota yang jarang kita lewati. Aspek riding skill, rute perjalanan, jarak yang ditempuh, lalu-lalu lintas sekitar, tempat singgah, partner berkendara (dengan kemampuan berkendara-nya), sampai dengan jadwal cuti, perlu dipersiapkan saat berencana untuk menikmati “jalan panjang yang berliku”. Kenapa gue merasa adalah kepentingan kita semua untuk “eling” dengan factor-faktor diatas? Sedikit banyak terpicu dari berita duka yang sebelumnya gue dengar.

Yang namanya rombongan, sebaiknya bergerak sebagai 1 rentetan yang tidak terputus. Penempatan personel sebagai pimpinan rombongan, peserta yang di depan-tengah-belakang, sampai dengan penutup rombongan/sweeper, sangatlah penting. Apakah pernah ada yang merasakan kalo berjalan/riding di bagian belakang sebuah rombongan, kecepatan dan ketegangan yang dialamai akanlah lebih kencang dan lebih tegang dari pada pimpinan rombongan/pengendara di bagian depan? Kebayang kan kalo pimpinan rombongan tidak “nyadar” kemampuan rombongannya? Kebayang kan kalo pimpinan rombongan memilih untuk menyalip/memotong jalur namun tidak mempertimbangkan apakah pengendara di belakangnya bisa ikutan masuk atau tidak? Kebayang kan kalo ada pengendara “baru” yang merasa rombongannya terpotong, merasa tertinggal dan berusaha mengejar rombongannya dengan kecepatan yang lebih tinggi? Kebayang kan kepanikan dan kelelahan fisik pengendara motor kalo touring ke luar kota tapi tidak ngambil jatah cuti yang cukup dan terburu-buru? Pengetahuan tentang aspek-aspek diatas tentang diri sendiri dan partner riding kita, mampu diarahkan menjadi rencana riding jarak jauh yang aman dan menyenangkan, tentunya kalo semua orang ikhlas berbagi dan tidak ada yang sok jagoan.

Sudah cukup banyak yang tengsing, ribet, dan ada juga yang terluka di jalanan. Belum lagi orang lain yang terkena dampak ikutan dari kelakuan berkendara kita. Berikutnya kita mau pergi riding, jangan lupa untuk mempersiapkan “payung-payung” yang diperlukan, kalo tidak, pas hujan, jadinya bechek, dan ga ada owjhek *Cinta Laura mode: On.

Rizky Mandra

Contributor writer is one half of Saint & Sinners Motorclothes, a family man, a rock fan, and a die-hard kustom kulture enthusiast.

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/sedia-payung-sebelum-riding.html">
Twitter