SEBUAH JURNAL DARI JEPANG, DESEMBER 2015

Jadi sebetulnya tulisan ini harusnya ditulis setelah kami pulang dari Yokohama Hot Rod & Custom Show (HRCS) awal bulan ini. Tapi berhubung banyak banget yang harus ditulis jadi gue kudu agak lama memilahnya.

Lawless_HRCS15_10
Pertama, karena gue udah pernah kesana, jadi excitement gue gak sebanyak yang baru pertama kali kesana seperti Ucup. Kedua, perjalanan kesana sama serunya dengan HRCS. Jadi kudu balance nih tulisan. Karena gini, ke HRCS itu gak bisa sekali dan Jepang gak bisa dijelajahi dan dipahami dalam beberapa hari saja. Terus terang gue jadi punya beban moral untuk menerangkan tentang Jepang dan HRCS sebelum Ucup kesana supaya siap. Tapi apapun yg gue lakukan, sepertinya percuma.

Keputusan untuk berangkat ke Yokohama itu sekitar 6 bulan sebelumnya. Jadi gue pesen ke Ucup untuk siapin baju untuk musim dingin. Seberapa dingin? Ya dinging sekulkas lah.
Kami akhirnya berangkat hari kamis jam 11 malam, tiba jumat pagi. Kami kebetulan berangkat bersama anak2 dari Troupe Industry, Rebellionik, Gaspol.com, Gearhead Monkey dan si big bor Vero dari Kickass Choppers.

Lawless_HRCS15_3
Lawless_HRCS15_2
Sampe di Haneda jam 9 pagi, gue dan Ucup memutuskan untuk langsung ke Yokohama dengan kereta. Sementara anak-anak Thrive MC ternyata terjebak di airport dari semalam sebelumnya karena kereta terakhir adalah jam 12 malam.

Lawless_HRCS15_38

Sesampainya di Yokohama sekitar jam 12 siang, kami memutuskan untuk curi-curi foto produk seadanya di pelabuhan Yokohama.

Lawless_HRCS15_11
Lawless_HRCS15_9

Lawless_HRCS15_37
Gue datang dengan persiapan yang cutup matang, sedangkan Ucup gue gak tahu. Tapi yang jelas baru 10 menit jalan Ucup bilang gini: “masbor, ini 5 menit lagi beku nih gue”. Ternyata kaos dan hoodie gak cukup buat dia. :))

Menjelang siang mulailah kita lapar, kami memutuskan untuk datang ke Mooneyes Area-1. Percaya ama google deh, dari mulai peta sampai jadwal bis cukup akurat. Salah satu alasan kenapa gue ajak ke Mooneyes Area-1 adalah karena ada Moon Cafe. Menu disini lumayan acceptable untuk Ucup yang memiliki paham bahwa sayur itu untuk dibakar bukan untuk di makan. Si BANYAK makanan di Jepang yang gak pake sayur.

Lawless_HRCS15_8

Lawless_HRCS15_7
Merasa sangat avonturir, kami tidak berhenti sore itu. Lanjut ke Tokyo sekalian memperkenalkan Ucup kepada sistem kereta di Jepang. Cara nyari kereta, lihat jadwal, memilih kereta dan cara bayarnya. Mirip sama KRL Bogor-Jakarta, cuma 20 tahun lebih maju aja. Dari Yokohama perjalanan sekitar 40 menit, kami tiba di Shibuya lanjut ganti kereta dalam kota ke Ginza. Kenapa Ginza? karena gue punya tujuan spesifik yaitu Yurako Concourse. Jadi bar ini konon sudah ada sebelum perang dunia ke-2 dan didirikan dibawah jembatan kereta. Mereka hanya menyediakan
jajanan kecil dan bakar-bakaran ala jepang dan BIR! Bayarnya juga kudu tunai. Old school berat lah. Tokonya super kecil, kalo malem duduknya sampe keluar-keluar dan mereka buat tempat duduk dari semacam peti plastik teh botol di tumpuk-tumpuk. Nongkrong pinggir jalan banget lah. Birnya
super seger dan yakitorinya pedes. Cocok untuk pendukung udara malam yang saat itu sekitar 11 derajat celcius.

Lawless_HRCS15_6
Besoknya, kami diundang oleh Steven Sare dari Mooneyes untuk menyaksikan proses loading dengan syarat gak boleh difoto. Para peserta HRCS ini sangat strict karena mereka berkompetisi untuk mendapatkan ‘nama’ dan ‘diakui’ sebagai builder. Gak lama kami disini, sisanya kami jalan-jalan lagi seputar Harajuku. Lumayan gak ngapa-ngapain sih karena penuh banget kalo weekend.

Lawless_HRCS15_1
Lawless_HRCS15_5

Lawless_HRCS15_36

Tibalah hari yang ditunggu. Gue udah bilang ke anak-anak kalo mau dapet merch yang limited edition lo kudu dateng ngantri jam 06.30. Padahal acara jam 9, pintu dibuka jam 8. Gue agak telat. Jam 7 baru datang dan antrian udah 30 meter. Biasanya ketika peak orang ngantri, antrian bisa
sampe 250 m. Ya bayangkan pengunjung total HRCS kan sekitar 15.000 orang sebagian besar ngantri pagi itu.

Gak bisa cerita banyak soal acara nih, karena emang gak bisa diceritain, harus merasakan sendiri. Hal-hal yg rutin seperti ride-in show, rebutan merch, award dan anekdot-anekdot lain bisa dilihat di Youtube dan kanal socmed lain lah. Sisanya, ini yang menurut kami patut di-highlight:

Lawless_HRCS15_10

Lawless_HRCS15_12

Lawless_HRCS15_11

Lawless_HRCS15_14

Lawless_HRCS15_15

Lawless_HRCS15_18

Lawless_HRCS15_17

Lawless_HRCS15_16

Lawless_HRCS15_21

Lawless_HRCS15_20

Lawless_HRCS15_22

Lawless_HRCS15_19

Lawless_HRCS15_24

Lawless_HRCS15_28
Lawless_HRCS15_29

Lawless_HRCS15_30

Lawless_HRCS15_27

Lawless_HRCS15_25

Lawless_HRCS15_31

Lawless_HRCS15_32

Lawless_HRCS15_33

Lawless_HRCS15_34

Lawless_HRCS15_35

In the end, gue cuma mau bilang kalo lo punya duit ekstra dan kesempatan, mending dateng sendiri deh. Banyak yang bisa kita pelajari dari Jepang buat urusan kita sendiri. Sampai jumpa di Dec 2016!

 

Oleh Roni Pramaditia.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/sebuah-jurnal-dari-jepang-desember-2015.html">
Twitter