MOTOR BUAT CEWEK

Judul tulisan ini mungkin adalah salah satu dari berbagai macam komentar “salah” yang pernah gue denger tentang H-D Sportster di Indonesia. Selain itu, komentar seperti “motor kecil” atau “motor buat belajar” dan “motor buat punya-punyaan” selalu bikin panas kuping para pecinta Sportster di Indonesia. Di negara yang mayoritas penduduknya suka banget bikin komentar salah akan hal-hal yang mereka tidak sepenuhnya paham, sudah sepantasnya ada “pembelajaran” tentang informasi dan pengetahuan yang sebenarnya. Artikel ini adalah bentuk kewajiban moral gue sebagai pecinta (dan dulu pernah jadi pemilik) untuk berbagi cerita tentang sejarah lahirnya Sportster.

Sebagai salah satu tipe motor yang paling lama diproduksi oleh Harley-Davidson, Sportster pertama lahir pada tahun 1957. Didesain untuk menggempur dominasi motor-motor produksi Inggris di arena adu kecepatan, Sportster diciptakan untuk satu tujuan utama: Kencang. Jika dibandingkan dengan kompetitornya di arena balap pada era tersebut (Flattrack merupakan ajang adu kecepatan yang populer), H-D agak ketinggalan dari competitor Inggris seperti Triumph dan Norton yang lebih ringan dan ringkas konstruksinya. Oleh karena itu lahirlah desain crankcase yang menyatu dengan girbox (sering dikenal juga sebagai MonoBlock) yang digunakan sampai sekarang. Dilengkapi dengan 4 cam, kompresi tinggi, desain cylinder head Hemispherical, dan rasio gigi transmisi rapat, mampu membuat Sportster sebagai senjata baru H-D di arena balap oval tanah tersebut. Posisi shifter yang berada di kanan (tentunya tuas rem di kiri) mampu membuat Sportster melesat dengan mudah di balapan yang sirkuitnya counter clockwise (lawan arah jarum jam) ini. Ngerti dong kenapa?

Di luar arena balap Flattrack, anak-anak muda (dan yang berjiwa muda… atau yang menolak tua??) juga menggunakan Sportster sebagai salah satu motor pilihan. Ringkas, lincah, dan (pada saat itu) murah membuat motor dengan kode XL ini sebagai andalan. Selain untuk moda transportasi yang ciamik, Sportster juga merupakan kendaraan andalan di arena balap liar pada masa itu. Drag-race jalanan dikuasai oleh motor yang pertama kali dilengkapi kapasitas mesin 900 cc ini. Bahkan Sportster mampu mengasapi “kakak”nya, para H-D Big Twin dengan mudah. Semenjak itu, Sportster digunakan untuk berbagai jenis modifikasi yang membutuhkan kecepatan. Beberapa chopper terkeren (in my own taste) sampai saat ini bahkan menggunakan dapur pacu berbasis Sportster. Singkat kata, kemungkinannya tak terbatas.

Sebuah memory lucu saat gue pertama kali dapet Sportster XLH ’60 900 cc di tahun 2007, saat itu bos gue, John McEnaney, H-D SOAR (Service Operation Area Representative) Asia Pacific, memanggil gue ke ruangannya. Gue terjemahin ke bahasa Indonesia nih:

John McEnaney (JMC): Katanya loe baru dapet Sportster tua? Tahun berapa?

Rizky Mandra (RM): Tahun 1960

JMC: Tahun ’60? Brarti 900 cc kickstart only dong? (dengan muka bingung nan serius)

RM: Yup (dengan senyum bangga sumringah)

JMC: Yakin loe? Itu kan kompresi tinggi..!! (dengan nada yang ga kalah tinggi). Banyak temen-temen gue orang Amerika yang kakinya pincang karena nyelah Sportster tua 900 cc lho..!! (kebayang dong orang Amerika bodinya segede apa?!)

RM: Yakin kok. FYI, banyak orang Indonesia yang lebih kurus dari gue (gue dulu kurus lho) punya dan nyelah Sportster tua 900 cc, dan baik-baik aja ampe sekarang.

JMC: Hhhh.. Ya udah.. Udah gue ingetin ya.. Resiko tanggung sendiri..!!

RM: Sip. *cengengesan sambil ngeloyor pergi…

Yak, buat temen-temen yang pernah nyoba nyelah Sportster tua, pasti pernah ngerasain mata  kunang-kunang terus keringetan segede biji jagung akibat 3 kali nyelah tapi motor ga mau hidup. Atau pernah denger cerita derita ankle sakit karena dihajar balik oleh kompresi tinggi mesin ini. Dua penyebab utama dari masalah ini adalah pengaturan titik pengapian yang tidak sempurna sehingga detonasi tidak tepat, dan orang yang tidak tahu selah motornya sendiri. Kalo anak bengkel bilang “motornya ngajak kenalan”.

Pengalaman gue “belajar” nyelah H-D tua adalah nyelah Sportster XLCH 900 cc ’62* yang dilengkapi dengan Magneto. Saat itu sang pemilik yang semalam mabuk dan kehujanan, minta tolong diambilkan motornya yang ia tinggalkan di rumah teman. Hampir 2 jam gue nyelah + cek busi, namun motor tetap ga mau hidup. Ternyata penyebabnya adalah sil Magneto yang bocor sehingga uap air masuk dan melemahkan percikan listriknya. Sebuah pengalaman berharga, karena sejak itu, gue pastikan setelan titik nyala yang benar dan aki selalu dalam kondisi optimal di Sportster gue. Hasilnya, 1 – 2 kali selah, pasti hidup.

Jadi, masih mau nyebut motor dengan 4 (EMPAT) cam, kompresi membumbung, per kopling anti selip, dan pengendalian ciamik ini sebagai motor cewe? Yang ngaku laki-laki tulen aja belum tentu bisa menaklukkan motor ini. Quadcam rules!!

-Rizky Mandra, SSMC-

*for the owner of the before mentioned XLCH (yes, you know who you are), thanks a lot dude!! Wouldn’t have my kicking lesson if it wasn’t because of your MalteseHead!!

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/motor-buat-cewek.html">
Twitter