KVELERTAK AT THE HOOD BAR, SINGAPORE

Ada beberapa konser/show yang sulit dilupakan karena begitu memorable dan menyenangkan. Show Kvelertak di Singapura, 7 Maret 2012 silam, jelas termasuk didalamnya. Band Norwegia yang satu ini menyeruak keluar klub dimana mereka bermain, Hood Bar, di Chinatown, Singapura, pada lagu terakhir, “Utrydd Dei Svake”, menyebabkan crowd tumpah ruah ke jalan dan menyebabkan kemacetan sesaat.

Gue pertama mendengar musik Kvelertak dari rekomendasi seorang teman, Annette, yang bersuamikan orang Norwegia dan tinggal disana. Pada saat itu mereka baru memiliki 1 buah demo, Westcoast Holocaust. Tidak lama, mereka merilis debut album yang diproduseri oleh Kurt Ballou dari band Converge, dan hingga hari ini, gue masih mendengarkan album ini. Mix antara musik black metal dengan hardcore punk, dan rock n’ roll [Turbonegro worship?], jelas musik Kvelertak menawarkan sesuatu yang fresh. Dan Lawless crew, menjadi fans band ini, nyaris mendengarkan album self-titled mereka setiap hari sebagai soundtrack di Lawless Jakarta. Inspiring.

Sampai suatu hari Annette mengirim pesan via Facebook kalau Kvelertak sedang mencari promotor untuk show mereka ke Asia Tenggara selepas mereka tour untuk Soundwave, Australia. Gue berhubungan dengan manajer mereka, Jonathan Rice, dan mengusahakan mencari sponsor dalam rangka menyiapkan show mereka entah di Jakarta atau Bandung. Sayangnya, tidak lama kemudian Jonathan Rice mengirim email yang meminta agar dalam 24 jam biaya transportasi dari Singapura ke Indonesia segera dikirimkan, yang saat itu tidak bisa gue penuhi karena sponsor belum masuk. Too bad. Next time.

Tapi Kvelertak mendapat sebuah show di Singapura, jadi kami tetap excited dan dari jauh-jauh hari menyisihkan uang agar dapat menonton mereka di Singapura. Harga tiketnya sendiri ternyata sangat terjangkau dan relatif murah, S$37 atau sekitar Rp.277.500, kami dapatkan online. Karena belum punya uang lagi, tiket pesawat gue dapatkan belakangan.

Hari yang ditunggu tiba, gue berangkat bersama Gamas eks-worker Lawless Jakarta. Aca & Unbound dari Lawless Tattoo sudah berangkat beberapa hari sebelumnya, ada pekerjaan tattoo di Singapura. Sementara Sammy Lawless sehari sebelumnya sudah berangkat juga. Di airport kami bertemu dengan Uri dari Ghaust & Sayiba dari Kelelawar Malam, mereka juga berangkat menonton Kvelertak. Great! Should be fun!

Sesampainya di Singapura, kami segera check in ke apartemen hotel murah di Orchard, dimana Adam dari Koil juga sudah hadir. Sorenya kami berkumpul di lobi stasiun MRT City Hall, biasanya kalau ada konser di Singapura, stasiun ini menjadi rendezvouz kami. Yulionta, seorang teman juga hadir menambah jumlah kami. Dari sana kami berangkat ke venue, Hood Bar, yang berada di jalan Keong Saik Road, Chinatown. Menuju venue kami menggunakan MRT ke stasiun Outram Park, dimana kami menunggu lagi 2 orang teman, Ucok dari Homicide/Trigger Mortis dan Amira dari Madonna Of The Rocks yang baru tiba dengan pesawat siang/sore. Tidak lama setelah mereka hadir, kamipun berjalan dari Outram Park ke venue, kurang lebih 10 menit saja.

Hood Bar cukup kecil, dan sudah tampak banyak orang bertshirt band hitam [tentu saja]. Sambil menunggu band pertama main, kami membeli beer di 7-11 terdekat, dan hang out di luar. Bertemu beberapa teman lama, metalheads & punks dari Singapura & Malaysia, yang juga datang. Nampaknya dibanding orang-orang Singapura yang datang untuk Kvelertak, lebih banyak orang Indonesia & Malaysia. Salah satu gitaris Kvelertak, Maciek Ofstad lalu lalang di depan venue.

Kamipun segera masuk ketika band pertama, Blood Division mulai main. Hood Bar ini sangat kecil, di tiket tertera hanya menjual 100 tiket karena venue yang kecil tapi gue rasa sebenarnya venue ini kapasitasnya hanya 70 orang, haha. bisa jadi venue ini sebesar venue Parc [RIP] di Jakarta.

Blood Division memainkan musik sejenis metal hibrida dengan punk, dan cenderung ke arah crust. Great & tight, set mereka tidak terlalu lama. Mereka baru merilis sebuah album demo dalam format kaset. Ketika Blood Division selesai dan band berikutnya sedang bersiap, gue sempat mengibrol dengan gitaris Bjarte Lund Rolland, dan juga vokalis Erlend Hjelvik. Bassist Marvin Nygaard ada di dekat Erlend, sedang mengobrol dengan seseorang yang nampaknya juga berasal dari Norwegia, karena mereka fasih berbincang dalam bahasa yang asing buat gue. Haha. By the way, orang-orang Skandinavia ini seperti para leluhurnya, memang berbadan besar. Sedikit lebih besar daripada ekspektasi yang kita lihat dalam foto-fotonya. Ada merchandise booth yang menjual tshirt & poster Kvelertak dengan harga murah. Disini kami bertemu dengan beberapa teman dari Jogja yang juga khusus datang untuk menonton Kvelertak. Mantap!

Band kedua, Truth Be Known, naik dan segera menghajar dengan musik death metal/grind/powerviolence-nya. Great band too. Truth Be Known memainkan cukup banyak lagu, gue sendiri menikmati dan sesekali mengganggu mereka, “Too slow! Too slow!” di jeda lagu. Padahal mereka sudah nonstop menghajar bagai senjata mesin. Ha! Kalau kalian tertarik mendengar sample musik mereka, bisa simak album Just Another Lamb disini.

Truth Be Known selesai, dan band yang ditunggu tiba. Venue cukup padat, tapi berada di depan panggung, venue terasa sesak. Semua merangsek ke depan. Gue berada di sebelah kiri panggung, jadi di depan gue ada gitaris Vidar Landa, dan Marvin. Sebelah kiri gue adalah set drum [ya, memang seakrab itu venue-nya!], yang ternyata drummer orisinil Kvelertak, Kjetil Gjermundrød, berhalangan hadir selama tour ke Australia & Asia Tenggara dan digantikan sementara oleh Truls Haugen dari band Insense asal Norwegia juga.

Tanpa banyak basa-basi, Kvelertak menghajar dengan lagu pertama, “Sjøhyenar [Havets Herrer]. Crowd menggila. Begitu ‘intro’ lagu selesai dan masuk ke part vokal, semua headbang maksimum dan mengepalkan tangan. Party tiiime! Langsung berurutan mereka menghajar dengan “Fossegrim”. Mendengarkan lagu-lagu Kvelertak langsung secara live ini memang seru sekali, selain kami sudah hafal part-part tiap lagu, sound yang keluar terasa brutal. Tentu saja, backline standar Kvelertak yang meminta 4 amplifier Orange, dipenuhi promotor Bone Crushing, dan di tempat sekecil itu sound menjadi semakin hingar bingar! Sadis. Next song, “Blodtørst”, atau bahasa Inggrisnya, ‘bloodthirst’! Crowd semakin menggila, mini stagediving mulai berterbangan, termasuk Erlend ikut melompat ke tengah dan diangkat oleh crowd.

Ketika lagu “Offernatt” dibawakan, Marvin maju ke depan dan berbalik, memberikan kode kepada Unbound disebelah gue agar naik ke pundaknya. Naiklah Unbound dan sepanjang lagu dia berada di pundak Marvin sebelum melompat ke crowd. Seru! “Ulvetid” dimuntahkan, dan intro yang black metal-ish membuat semua orang mengangkat tangan, squeezing-invisible-testicles-in-the-air. Haha. Gue nggak tahu istilahnya tapi kurang lebih gayanya seperti ini:

“Liktorn” dan “Ordsmedar av Rang” dibawakan sebelum Kvelertak membawakan single pertama mereka yang menjadi hit: “Mjød”! Intro klasik dari cabikan Marvin kembali membuat crowd menggila. Semua ikut bernyanyi hingga suara serak, dan serunya gue yakin tidak ada satupun orang yang tahu apa yang mereka nyanyikan karena semua lagu Kvelertak berlirik bahasa Norwegia, haha! Setelah “Mjød”, langsung disambung dengan lagu terakhir mereka yang juga merupakan lagu ke 9, “Utrydd dei Svakke”. Di tengah lagu seperti di video atas, entah gitaris mana yang memulai duluan untuk berlari keluar, karena posisi gue berada dekat set drum, jadi agak terlambat menyadari venue tiba-tiba berkurang isinya karena crowd juga ikut keluar. Sambil tertawa-tawa, “Ah, gobloook.”, kami menyusul semua orang meninggalkan drummer Truls sendiri menjaga beat. Di jalanan, Maciek, Vidar, Bjarte & Marvin tetap memainkan alat mereka yang tetap terdengar soundnya karene begitu keras. Erlend entah dimana, mungkin membeli roti cane di restoran seberang.

Jalanan mulai penuh, dan membuat sedikit macet. Salah satu yang lucu adalah ketika ada mobil lewat Vidar atau Maciek [gue nggak ingat] melompat ke depan mobil tersebut dan memainkan sebuah solo. Bayangkan menjadi penumpang mobil yang kebingungan tiba-tiba dihadang oleh seorang gitaris yang menyayat sebuah solo brutal, haha! Lagu pun habis, dan semua orang senang. Semua menunjukkan ekspresi senang dan puas, menjadi malam yang tidak mudah dilupakan. Merchandise sold out, beer di bar nyaris habis, Kvelertak rehat sambil hangout dengan kami yang masih belum percaya hura-hura di malam ini sudah berakhir.

Kvelertak rules.

ARIAN 13

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/kvelertak-at-the-hood-bar-singapore.html">
Twitter