Kembalinya Rima Ganas Sang Raja: Interview Dengan RAJASINGA

trimurtad-001-72

oleh Reinhart Jeremy

 

Nama ‘Rajasinga’ awalnya adalah nama lelucon yang dibuat pada awal waktu mereka berdiri, tapi siapa sangka mereka merupakan salah satu band metal yang diperhitungkan di Indonesia. Band grindcore/rock yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, ini beranggotakan 3 orang, Morgan atau Morrg (vokal/bass), Revan (vokal/drum) dan Biman (vokal/gitar). Mereka memainkan musik secara cepat tanpa basa basi, seperti menggilas jalanan, dan cukup sering menjadi sorotan di perhelatan musik underground nasional. Berdiri di tahun 2004, Rajasinga telah mengeluarkan beberapa rilisan mulai dari live demo album, mini album sampai full length album seperti Killed By Rajasinga, Pandora, Nevergrind, dan Rajagnaruk.

Tahun 2016 ini Rajasinga kembali merilis album terbarunya, III. Morrg, Revan, dan Biman kembali meruncingkan gigi mereka dengan sebelumnya merilis dua single baru, “Stoned Magrib” dan “Masalah Kami Di Negeri Ini”. Artwork dari album terbaru mereka ini dikerjakan oleh Morrg yang juga merupakan ilustrator (SiksaKubur, Speedkill, Ghaust, dan lainnya) dibantu dengan konsep dari seniman Riandy Karuniawan dan Revan. Diproduseri oleh Revan beserta Rajasinga, album III dari Rajasinga ini bertema isu-isu politik, sosial, gaya hidup, dan yang pasti juga tentang kanabis. III dirilis melalui split release antara Negrijuana Records, Lawless Jakarta Records, Omuniuum, dan Straineyes Production (Singapura).

Saya berhasil menemui mereka dan menanyakan beberapa pertanyaan tentang album mereka, berikut hasil sesi tanya jawab saya dengan mereka.

 

Salam segan buat Rajasinga, bagaimana kabar? Sehat?

Hai! Salam segan juga, kami disini sehat dan aman-aman saja.

Kesibukan apa yang sedang dijalankan sekarang, bagi masing-masing personil?

Kami sedang melakukan tour promo untuk album terbaru kami yaitu III, rangkaian tour ini berjudul “Weekend Rocker Tour”. Kami menyambangi beberapa kota-kota di daerah luar Jawa maupun di Jawa sendiri, seperti Palembang, Pekanbaru, Surabaya dan lain-lain. Untuk pekerjaan masing-masing personil, kami mempunyai kesibukan tersendiri. Morrg mungkin mengerjakan beberapa proyek gambarnya sebagai seorang ilustrator. Kalau untuk yang lain hanya bermain musik saja sepertinya.

Setelah keluarnya album III ini, apakah kalian bisa ceritakan berapa lama dan bagaimana proses pengerjaannya?

Penulisan lagu ini sudah lama ya, mungkin setelah selesai album Rajangaruk ditahun 2011 kami sudah memulai untuk membuat lagu baru lagi untuk album kedepan. Lagu seperti “Stoned Magrib” dan juga “Orang Gila”, pembuatannya sudah ada sejak selesai album Rajagnaruk. Jujur saja kami sebenarnya ingin menggunakan 2 tracks ini untuk dimasukkan kedalam album Rajagnaruk. Namun rasanya belum pas saja, eh ternyata lagunya jodoh di album kami III ini.

Rekaman album terbaru kami III dimulai Februari 2015 dan selesai April 2016. Proses rekaman lama dikarenakan kami berpindah 5 studio dan 3 kota, pada saat tahap mixing atau mastering sedikit agak rumit. Kami mau sebuah karakter sound yang jujur tanpa banyak tambahan maupun polesan. Tidak semua sound engineer mengerti maksud yang kami mau capai, tapi hasil akhirnya cukup memuaskan buat kami. Senang sekali bisa bekerja sama dengan orang yang terbaik dibidangnya.

Apakah ada hambatan pada saat pengerjaan album III?

Ada, cuman ga terlalu berarti. Biasanya karena jarak yang terlalu berjauhan menyebabkan jadi suka ngaret, terserang malas, mood swings, adu argumen. Terlalu lama bertekak soal materi materi, haha yah masalah standar dari band rekaman lah. Hahahaha!

Tema dalam album III ini lebih matang dari sebelumnya, seperti mempunyai karakter sendiri berbeda dengan album Rajasinga sebelumnya, apakah ada perubahan dalam sound maupun permainan para personil?

Betul, kami membuat musik itu seperti pertanda perubahan zaman. Tidak ada lagu yang pasti selalu sama, setiap album yang kami buat adalah suatu photo capture proses bermusik kami jalani, jadi sudah pasti akan ada penambahan dan perkembangan di setiap lagu dan albumnya. Musik menurut kami adalah suatu hal yang akan selalu tumbuh dan selalu berkembang seiring waktu, semakin lama maka akan semakin sederhana.

Dalam album terdapat track “Stoned Magrib” yang dirilis sebagai single dan juga animasi video, latar belakang dan cerita dari animasi tersebut itu apa? Dan bisa jelaskan makhluk apa yang terlihat tidur sambil menghisap shisha di padang gurun itu? Maskot dari Rajasinga itu sendiri?

Ohh, nama dari karakter yang ada dalam video klip “Stoned Magrib” tersebut adalah King Smoker Sinting! Nama lainnya Singa Giting. Ide untuk karakter itu bermula dari momentum 11 Tahun Berasap Rajasinga, sekaligus aja kami bikin sebuah animasi epic untuk single perdana dari album III ini. Cerita fantasi tentang perjalanan 3 orang pendeta Trimurtad menuju tanah perjanjian yaitu Negrijuana. Nah, ditengah perjalanan ketiga orang ini bertemu sang Penjaga Gerbang, yah itulah si King Smoker Sinting, lalu dimulai lah petualangan, hahahahaha! Ngayal banget ya wak. Jauhiin.. hehehe.

Animasi pendek ini sebenarnya bentuk lain dari cerita pengalaman kami bertiga, setelah 11 tahun berjalan dengan satu kesepakatan, perjanjian suci, dan komitmen dalam sebuah band bernama ‘Rajasinga’. Bersyukur sekali rasanya sampai saat ini kami masih bisa terus bermain musik bertiga, kalau kata pepatah Opa Marley “Jammin’ ’till the jam is through…” Segaan!

Bisa ceritakan terkait arti dibelakang dari Tiga Trisula yang dijadikan sebagai kover album? Apakah hal tersebut meresepresentasikan karakter dari tiap personil dalam Rajasinga?

Tiga Tombak itu hanya sebuah symbol saja, sebagai suatu perkakas yang dimiliki oleh ketiga Trimurtad, karena ini album ketiga maka ada beberapa komposisi “bertiga” yang kami sisipkan dimana mana dalam konsep visual album III Rajasinga ini.

Ada lagu bertema Pancasila versi Rajasinga dalam album III ini, di track ke 7, di dalam kertas lirik CD terlihat kosong. Terdengar marah, apakah ini pandangan Rajasinga terkait Pancasila di Indonesia yang masih belum terwujudkan?

Hmm… Lagu ini kami buat bukan untuk melanggar hukum atau membuat sebuah lawakan terhadap Pancasila. Di lagu tak berjudul itu, track 7, itu adalah fakta yang kami amati dan cermati, dari potret kejadian sehari-hari di Indonesia. Pancasila, adalah dasar negara yang memiliki makna yang begitu sempurna, jika dipahami dan dilaksanakan merupakan suatu konsep yang ideal untuk diterapkan. Kami tahu persis Pancasila yang kami pahami, bukan yang seperti ada di kehidupan sekarang, realitanya berlawanan sekali. Justru kami berharap semua sadar akan hal itu.

Influens dan referensi musik bagi tiap personil bagaimana? Sama atau berbeda? Apakah ada dari influens maupun referensi musik tersebut ditemukan dalam beberapa album Rajasinga?

Wah! Referensi musik itu tak terhingga banyaknya ya.. Kami semua punya latar belakang dan selera musik yang benar-benar berbeda. Ada dari musik tradisional, kontemporer, maunya sih yang biasa-biasa saja, mau yang ekstrim, hampir apa saja bisa menjadi referensi. Musik bagus ya musik bagus dan cuma musik bagus yang bisa kami dengarkan. Tentu saja, referensi dari masing masing personil akan mengumpan inspirasi lagi, lalu kami karyakan. Kalau kalian mendengarkan musik Rajasinga secara mendalam, pasti akan ketahuan detil-detil musik yang kami mainkan terinspirasi dari mana. Contohnya untuk lagu dari album III kami yaitu track “Orang Gila” dimana ada riff ikonik dari Nirvana, “Smells Like Teen Spirit”, itulah salah satu bentuk penghormatan kami terhadap band grunge raksasa tersebut, yah bisa dikatakan juga sebagai referensi musik kami lah.

Bagaimana tiap personil membagi waktunya dalam bermain musik? Terkait dengan pekerjaan yang lain di bidang musik, maupun uusan keluarga?

Yang ada itu adalah waktu yang dikorbankan, karena udah ga ada lagi waktu yang bisa dibagi, semua udah habis.. hahahaha! Hidup dengan kecintaan pada musik keras seperti ini, harus dibawa senang aja. Pandai-pandailah mengatur waktu, lakukan dengan kesungguhan. Keluarga harus bisa mendukung dan percaya, bagaimanapun caranya. Kalau ngga yaa agak susah juga mau jalan.

Jika kalian diberi pilihan untuk bermain di genre musik selain grindcore, Rajasinga mungkin lebih condong ke genre apa? Dan berikan alasannya.

Waduh, apapun terserahlah sih. Kami percaya kalau genre itu yang memilih band, bukan malah sebaliknya. Hahahahaha entahlah, kami juga agak bingung dengan hal seperti itu.

Apakah Rajasinga sendiri sudah pernah tour keluar dari Indonesia?

Iya, hampir disetiap album kami melakukan promo tour. Waktu promo album Pandora itu paling panjang, nama promo tournya “Spreading The Plague South East Asia Tour” di tahun 2007. Kami biasanya lebih tertarik untuk khatam tour di negara sendiri dahulu, baru mikir untuk main keluar negeri.. Cuman apabila ada kesempatan bermain keluar negeri pasti kami selalu ambil, kenapa enggak.

Album atau lagu favorit kalian dari Rajasinga sendiri apa? Bisa berikan alasan?

Hahaha, Ini pertanyaan yang susah untuk dijawab. Karena di tiap lagu dan album Rajasinga itu punya ceritanya masing-masing. Semuanya favorit, semuanya pilihan, semuanya kami suka. Kalau ga suka pasti ga akan masuk dan dirilis jadi album lah.. hahahaha!

Dari beberapa album Rajasinga ada cerita lucu yang bisa diceritakan? Mungkin dari album Pandora, Nevergrind, Rajagnaruk atau mungkin album III ini?

Wah, Mulai dari mana nih? banyak sekali yang bisa diceritakan.. dari album awal sampai sekarang hahaha! Tapi yang jelas, tiap rekaman album, punya kisah sendiri. Yang namanya proses, ya ngga senang-senang melulu, tapi banyak juga problema-problema nya, yaa dinikmati ajalah selagi masih bisa, bermain musik sebelum dilarang, hahaha!

Rajasinga sering diafiliasikan dengan ganja, dikarenakan lambang yang kanabis yang selalu muncul dalam merchandise kalian. Ada penjelasan untuk hal tersebut?

Tidak selalu sih, tapi memang di beberapa level tertentu kami sangat mengapresiasi kanabis. Alasannya? Ya cari tau sendirilah, era digital, harus bisa buka mata, telinga dan pemikiran yang open minded untuk masalah yang satu ini. Banyak informasi tersedia dimana mana terkait apa itu ganja, buku dan literatur ada, untuk dicari tahu. Putuskan sendiri sikap kalian tentang hal seperti itu. Yang jelas, buat kami ganja itu bukan narkotika.

Pendapat kalian terkait perkembangan skena musik grindcore di Indonesia bagaimana? Stagnan atau sudah berkembang pesat?

Cukup membahagiakan! Semakin banyak band-band yang bagus dan berani memainkan musik mereka sendiri, mempunyai kepribadian dan nilai tersendiri. Banyak juga rilisan rilisan bagus dan yang menarik, bahkan banyak band juga tour keliling kemana-mana. Apresiasi masyarakat juga positif dan sangat baik dengan musik keras, apalagi yang jenisnya seperti Rajasinga. Tapi faktor musiklah yang paling menjadi hal utama, selagi masih ada band yang berusaha keras untuk membuat karya bagus, maka musik seperti ini akan terus hidup selamanya.

Pertanyaan terakhir buat Rajasinga… Ada??

Wahh seram kali in pertanyaan terakhirnya! Ada lah! Mau?! Sinilah! Hahaha..

Album baru Rajasinga III masih tersedia dalam format CD deluxe dan reguler di Lawless Jakarta dan Omuniuum. Foto oleh Ivy Londa.