IMAGE OF AN ERA

Media berperan besar dalam menentukan muka dan rupa sebuah era. Mulai dari majalah skateboard macam Thrasher, channel musik MTV, bahkan buku stensilan karya Enny Arrow, punya andil dalam membentuk sebuah image akan periode tertentu dalam hidup seseorang. Disaat dulu hanya ada majalah-majalah yang menjadi acuan gaya custom dan MODIFIKASI (*yeah, Viva Mofifikasi Indonesia!!) sepeda motor, ada 2 produksi film yang mampu MERUBAH muka dunia motor custom dan scene-nya secara massive dan mendunia. Tidak hanya scene yang bergeser, namun juga industri dan market yang mengalami perubahan kiblat. ‘Choppertown – The Sinners’ di tahun 2004, dan juga ‘Into the Unknown’ di tahun 2014.

Lawless_ImageOfAnEra_1

Lawless_ImageOfAnEra_2

Muncul di era motor pre-street berban belakang lebar, tangki mengalir mengikuti lekuk sasis yang ceper, cat menor dan grafis tribal serta tengkorak, ‘Choppertown – The Sinners’ muncul dan memberikan angin segar bagi penikmat modifikasi. Cerita yang berpusat di kehidupan Kutty Noteboom dan teman-teman clubnya The Sinners, mendokumentasikan bagaimana Kutty membangun motor dengan acuan gaya chopper akhir 50-an – awal 60-an. Motor yang ramping, padat, dibangun dengan penuh influence yang tepat dari era yang dianut, dan sangat disesuaikan dengan postur serta riding habbit Kutty. Film ini juga mengexpose sisi yang lebih luas dari custom culture dan keseharian para “bintang” di dalamnya. Mulai dari scene mobil hotrod, music cadas, gadis-gadis pin-up, skateboard, dan juga craftmanship di scene tersebut. Tak lupa, persaudaraan diantara mereka yang terlihat sangat solid, dikemas dengan sangat apik.

Setelah film ini diluncurkan, semua orang langsung mendadak oldschool!! mesin Evo dan TwinCam langsung menjadi tabu untuk digunakan, harus kickstart (menolak starter pencetan), ban harus yang kurus, dan cat harus warna glitter dengan pinstripe atau ada motif cewek sexy duduk diatas roket. Apakah ini latah?

Lawless_ImageOfAnEra_4

Lawless_ImageOfAnEra_5

Lawless_ImageOfAnEra_3

Film tersebut merupakan dokumentasi terhadap orang-orang yang sudah melakukan/mengendarai motor dengan gaya tersebut JAUH sebelum mereka mendapatkan ketenaran di awal milenium kedua tersebut. Motor Panhead ‘Superfreak’ milik Chopper Dave telah malang melintang scene custom sejak tahun 1998, ‘The Black Tibetans’ milik Jason Jessee juga telah sering tampil di event-event skateboard sejak awal tahun 2000an, bahkan ‘The Blue Bike’, motor Hot Rod milik Cole Foster telah rampung dikaryakan sejak 2001. Seluruh influence tersebut sudah hadir dan merupakan keseharian bagi The Sinners jauh sebelum publikasi film tersebut dilaksanakan. Namun sepenggal kehidupan mereka yang mampu dihadirkan dalam sebuah film mampu merombak tatanan dunia custom secara global. Keinginan dan kebutuhan market yang mendambakan motor “Ol’ Skool” mampu menelurkan produk-produk baru yang menjadi incaran-incaran kahalayak umum. Mesin-mesin tua jadi mahal, disaat mesin-mesin modern tidak dilirik anak muda. Beberapa produsen menciptakan spool-hub untuk velg jari-jari, sehingga velg billet turun permintaannya. Lampu-lampu kabut dari mobil tua meroket harganya, menjadikan lampu HID turun pasarannya. Scene motor custom menjadi lautan glitter dan kemeja flannel.

Lawless_ImageOfAnEra_6

Satu dekade bergulir, dan kini muncullah film ‘Into The Unknown’ yang merupakan dokumenter dari Unknown Industries. Sebuah dokumenter yang mengabadikan kehidupan pemuda-pemuda diatas FXR mereka bergaya Club-Style** dengan warna cat yang cerah, wheelie, burnout, dan freestyling diantara belantara beton dan aspal California. Dapat terlihat evolusi kehidupan mereka yang bermula dari scene balap BMX, beranjak remaja dengan Moto-X, dan dewasa diatas V-Twin Amerika. Hal ini dapat dilihat dari atribut-atribut parts dan gaya yang tidak jauh berbeda dengan kedua scene tersebut. Film ini secara instan mencetak trend baru Club-Style bikes dengan atribut performance dan freestyle, yang secara mudah diterima oleh generasi-generasi penikmat X-Games.

Film ini merupakan produksi kedua dari Unknown Industries (’13th Level’ merupakan rilisan pertama mereka), dan merupakan outcome tercanggih dari kampanye Harley Wheelies yang mulai rilis di Youtube sejak awal 2008. Hampir 7 tahun mereka melakukan kegiatan yang menantang maut ini, dan setelah film kedua mereka dirilis, market langsung berubah drastis. Motor-motor bershock samping mulai dilirik, harga motor type Dyna baik dengan mesin Evo maupun TwinCam mulai bergerak naik, bahkan FXR saat ini hampir dapat disandingkan dengan berhala yang banyak dipuji-puji orang. Barang-barang aftermarket tahun 90-an sekarang menjadi incaran banyak orang, dan disaat barang tersebut sudah tidak diproduksi lagi, harganya melebihi investasi logam mulia. Edan!!

Berkaca kepada kedua produksi layar perak yang menggambarkan masing-masing era tersebut, tetiba kepikiran, satu-dua dekade ke depan, produksi apakah yang akan diingat orang banyak untuk menggambarkan era tersebut?

 

Oleh Rizky Mandra dari SSMC.

**Club Style Bike mengacu kepada motor-motor performa bershock belakang ganda (Dyna, FXR, Sportster, motor-motor bagger) yang lazim digunakan oleh club-club motor outlaw macam Hells Angels, Mongols, atau Bandidos dalam berkendara dan menghindari kejaran aparat. Modifikasi yang biasanya dilakukan kepada motor-motor tersebut adalah mengatur posisi pengendara agar mudah kabur dan nyelip diantara kemacetan (riser tinggi, t-bar/sport bar, engine hop-up, suspensi mumpuni, dan seringkali cat motor hitam monokromatik)

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/image-of-an-era.html">
Twitter