HIGHWAY TO HELL ON A CHOPPER

A relationship to the death between rock music and motorcycle culture.

How It All Started.

Pernah lihat foto King Elvis kickstarting Harley Davidson K model? Atau mungkin foto Jimi Hendrix posing on a super rad Panhead chopper? Atau kalau di Indonesia ada foto Alm. Gito Rollies diatas 70-ish style XS650 chopper menjadi cover majalah Aktuil?

Please mind the picture quality. Sangat susah untuk mendapatkan gambar hi-res Gito di cover majalah Aktuil. Sejak dulu memang music rock sangat identik dengan motorcycle culture. Kita bisa liat di banyak aspek di kedua kultur tersebut yg saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Secara image sih emang cociks banget, dimana musik rock merupakan salah satu bentuk pemberontakan kaum muda terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, begitu juga dengan kultur permotoran. Kultur motor sendiri yang berawal dari sekedar alat transportasi, yang akhirnya berkembang ke sport/balap dan illegal street racing and bobbing a bike menjadi wahana untuk menyalurkan hobi modifikasi oleh para remaja di era 40-an, dimana hal ini juga merupakan salah satu wujud pemberontakan kaum muda pada era itu akan norma-norma yg dianut masyarakat umum. Dan hal ini masih terus berlanjut sejak era Elvis sampai sekarang. Seakan-akan dua kultur ini memiliki ketertarikan abadi satu sama lain.

The Music, the Culture and the Fashion.

Kalo bicara tentang musik rock dan motor, gak akan ada habisnya dari masa ke masa. Hebatnya lagi kedua budaya ini saling meng-explore satu sama lain sehingga akan terus ada hal-hal baru yg bisa diambil dan tidak menjadi repetisi trend yang membosankan. Mau contoh? Coba browse di Youtube video Bon jovi (yes, Bon Jovi was a rock band) di lagu “Miracle”. Di video itu digambarkan tentang segerombolan riders yang sedang touring. Mungkin video itu tidak memvisualisasikan tentang choppers, custom culture atau outlaw MC secara eksplisit, but it sure shows the beauty of riding your bike with bunch of good friends, which shares similar passion, atau music video lagu Judas Priest “Turbo Lover”, yang menampilkan image, heavy metal motorcycle, literally; bahkan di video musik Sheryl Crow lagu “Steve McQueen”, Sheryl terlihat sangat sexy, sporting a Triumph t-shirt and riding on a dirt bike.

Dari sisi fashion pun, motor dan musik rock memang serasi berjalan beriringan, baik hanya sekedar pakaian harian si rocker, sampai kostum panggung bahkan di high-end fashion show sekalipun. Leather jacket, riding boots, jeans, sudah menjadi fashion item yang sangat populer baik di scene musik rock maupun di kalangan umum. Pakaian ataupun aksesoris yang digunakan para riders/bikers yang tadinya bersifat fungsional, mulai banyak bergeser menjadi trendy fashion item atau bahkan menjadi sebuah distinct look yang abadi seiring berjalannya waktu.

Banyak juga lagu rock yang dijadikan soundtrack film-film yang bertema permotoran, seperti lagu “Born to Be Wild”-nya Steppenwolf yang menjadi soundtrack di film Easyriders atau lagu “Wanted Dead or Alive”-nya (again) Bon Jovi yang jadi soundtrack di film Harley Davidson and The Marlboro Man, masih nempel banget di kepala. Scene di awal film ini waktu Harley (Mickey Rourke) manasin motornya, a neat customized FXR, close up air filter cover S&S yang bergetar karena getaran mesin Evolution, sembari diiringi lagu Bon Jovi… Maan, it was the SHIT back then! Mau liriknya kacrut atau lame pun, tetap saja it was a perfect match.

Diatas gue udah cerita sedikit tentang musik rock dan kultur permotoran dari segi visual dan image sampai ke fashionnya, selain itu motorcycle culture juga seringkali menjadi inspirasi bagi musisi-musisi rock dalam membuat lagu, antara lain lagu “Born to Be Wild” Steppenwolf atau lagu “The Chequered Flag (Dead or Alive)” Jethro Tull. Di lagu “Born to Be Wild”, si penulis bercerita tentang being a free individual, just go out, ride and deal with whatever life’s might bring you up ahead. Kalo lagu “The Chequered Flag”-nya Jethro Tull, mungkin lebih tentang living in the fast lane, how it can be quiet similar with the life in the race track, the never ending challenge. Interpretasi gue aja ini sih, feel free to have any different opinion about these songs. I don’t care! Kalau di Indonesia, ada Seringai dengan lagu “Kilometer Terakhir”, it’s all about going fast on your bike and feel the adrenaline rush, it’ll sure rock your socks off. A perfect riding soundtrack. Dan satu lagi ada Leonardo dengan lagu “Built to Race”. Leo bercerita bagaimana disaat proses penulisan lagu tersebut yang ada di kepalanya adalah Setzer’s ’52 Triumph 650 bobber and the song turn into a swingin & rockin tune that celebrate both culture as a whole, the kind of song that would make you want to roll out those classic bobbers and race it on the street. Dan jangan lupa juga ada Naif dengan lagu “Kuda Besi” yang bercerita secara gamblang tentang the attitude and the fun of riding your bike, splitting lanes like you just don’t care.

The relationship between these 2 subculture has growth even more into a different level I might say, when The Rolling Stones management informally hiring The Hells Angels untuk jadi semacam “security” di acara The Altamont Speedway Free Festival di tahun 1969. Acara yang berujung rusuh ini diorganisir oleh The Rolling Stones dan juga menampilkan band2 lain seperti Grateful Dead (yang akhirnya memutuskan untuk mengcancel penampilan mereka karena kondisi keamanan yang tidak kondusif). Perjanjian ini bersifat informal bisa dilihat dari pernyataan Sonny Barger, presiden Hells Angels chapter Oakland, bahwa Angels tidak pernah diminta dan tertarik untuk mengamankan acara itu. Oleh pihak organizer mereka hanya diminta untuk datang dan “nongkrong” di sekitaran panggung. Kalau ingin tau lebih banyak tentang kejadian ini, silahkan cari dan tonton film dokumenter The Rolling Stones yg berjudul “Gimme Shelter”. Di film ini terdapat footage-footage kerusuhan yang terjadi di Altamont Speedway Free Festival. Kalo di Indonesia, setau gue Bikers Brotherhood MC juga pernah ikut mengamankan salah satu acara bazaar SMA BPI di Bandung karena sekolah tersebut pada saat itu cukup rawan dengan perseteruan antar geng motor “kecil”.

Rockers Who Ride.

Selain musiknya, banyak juga rockernya yang memang rider/biker di kehidupan sehari-hari, gak cuma sekedar pencitraan. Kalo di luar negeri dari rocker era Elvis Presley Sampai sekarang banyak yang di kehidupan sehari-harinya juga berkecimpung dengan dunia motor, antara lain: Elvis Presley, seperti yang sering kita temui didokumentasikan, The King was an avid rider. Banyak foto Elvis diatas Ironhead-nya atau di atas Duo Glide miliknya.

Di era yg lebih muda ada Jim Morrison, belakangan ditemukan motor ex-milik Jim Morrison. Sebuah Honda 305 Scrambler. Yang menarik dari sejarah motor ini, selain kepemilikan atas nama frontman The Doors itu, motor ini juga pernah dimiliki dan dicat oleh the world famous Kenneth Howard alias Von Dutch, master painter and pinstriper.

Selain itu masih ada Brian Setzer of Stray Cats, Lemmy Kilmister, James Intveld, Wino of St.Vitus with his killer Panhead chop, Mike Ness, James Hetfield dan Gilby Clarke. Untuk yang terakhir disebut, Gilby Clarke, selain memiliki dan membangun sendiri beberapa chopper yang yahud, dia juga memiliki bengkel motor kecil yang dinamai Gilby’s Garage.

Kalo di Indonesia juga ada beberapa musisi rock yang juga pehobi motor. Kalo di era lama ada Alm. Gito Rollies. Beliau diketahui memang hobi motor sejak muda dan sempat memiliki beberapa motor. Untuk orang Bandung, mungkin pernah dengar cerita tentang Gito Rollies yang pernah naik motor telanjang keliling Bandung sewaktu lulus-lulusan demi memenuhi kaulnya. Masih banyak lagi musisi-musisi rock lokal yang terlibat di scene permotoran, antara lain ada Sammy of Seringai, who currently rode a supa neat Ironhead, Stevie of Deadsquad dan Coki Netral yang tercatat sebagai Scout (probation member) di Black Angels MC. Ada juga Alm. Micko, vokalis Protonema dan David Naif yang tercatat sebagai life member Bikers Brotherhood MC. Kalo dari teman-teman skena Bali ada JRX dan Eka of SID, both ride a sportster dan memiliki clothing line yang pekat beraroma kustom kulture, yaitu JRX dengan Rumble dan Eka dengan Diamond Ride. Ada juga Tiar sang drummer dari DevilDice. Dia adalah member dari gerombolan Naskleeng13, a bunch of hell raiser on wheels. Kalian harus lihat Honda CB125 cafe racer miliknya yang jauh dari kesan cafe racer kebanyakan. Pasti masih banyak lagi teman-teman rocker yang lain yang juga pehobi motor yang mungkin gue gak tau.

Dari yang udah gue tulis panjang lebar diatas, bisa disimpulkan kalo memang skena musik rock dan skena roda dua dari dulu sudah sangat terkait erat karena berangkat dari roots dan nilai-nilai yang sama. Tapi gak harus jadi rocker dulu buat bisa menikmati kultur roda dua. Cuma butuh modal passion dan keinginan tulus untuk sama-sama memajukan skenanya. Motornya sih bisa nyusul hehehe.

[Disclaimer: foto-foto diambil dari berbagai sumber, tidak semuanya adalah hak milik Lawless Jakarta maupun penulis, hanya untuk kepentingan ilustrasi semata]

Oleh Wira Bakti dari SSMC.

Wira adalah sahabat baik kami, salah satu sekutu kami dari Saint & Sinners MC, fans berat Deftones, pemilik 1 custom H-D Sportster dan 1 custom H-D WL, seorang ayah, dan pembuat onar di jalanan.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/highway-to-hell-on-a-chopper.html">
Twitter