GEROMBOLAN GEMURUH – HOW TO RIDE IN A PACK

Mensyukuri kehadiran beberapa event-event permotoran seperti Throttle Twisting Sunday, BBQRide, dan juga Distinguished Gentlemans Ride di beberapa kota di Indonesia, kita hampir tidak bisa menghindari kemungkinan untuk riding berbarengan dalam jumlah yang cukup besar, dengan mayoritas dikelilingi oleh orang-orang yang belum kita kenal. Tak dipungkiri, hal tersebut memang MENYENANGKAN! Tapi kesenangan itu juga sangat dipengaruhi dengan posisi kita di dalam rombongan tersebut, dan bahkan orang-orang di sebelah atau di depan kita.

Artikel ini gue sadur dari tulisan Bill Bryant yang kembali diterbitkan di laman ChopCult.com pada 22 April 2015 (aslinya terbit pada 3 Desember 2010). Artikel aslinya juga banyak menyadur tulisan Ed “Big Daddy” Roth dalam majalah Choppers, beserta beberapa image dari majalah tersebut, terbitan tahun 1967. Meskipun terbilang uzur, sebenarnya konten artikel tersebut tidak banyak berbeda dengan kondisi sekarang. Yang berbeda adalah penekanan pada kapasitas dan jenis mesin, serta kesenangan akan kebut-kebutan. Gue pun akan berusaha untuk mengelaborasikan artikel tersebut dengan kondisi jalanan di Indonesia.

  1. Ambil keputusan sebelum ride.

Apakah loe cukup jago untuk ride dengan rombongan ini? Jujur dan tanyakan pada diri sendiri, apakah loe dan motor loe cukup handal untuk mengikuti rute dan ritme berkendara dari rombongan yang akan loe ikuti. Kalo sekiranya loe sendiri perlu berpikir panjang untuk menentukannya, sadar diri dan ride di urutan belakang dari rombongan tersebut. Pengetahuan akan rute yang akan ditempuh juga penting, sehingga kalo perjalanan menjadi kurang nyaman loe akan dengan mudah mencar dan melanjutkan perjalanan dengan ritme loe sendiri. Pola pemikiran yang serupa juga penting apabila ternyata ritme loe lebih cepat dibandingkan dengan peserta rombongan. Biasanya rombongan itu sedikit lebih lambat, dan bila hal ini bisa membuat loe gak sabaran, lebih baik untuk ngacir di depan dan jalan kencang sendirian. Jika akhirnya memutuskan untuk mengikuti rombongan, KALEM, ambil posisi, dan jaga jarak aman selama perjalanan.

  1. Loe bukan begal atau copet, jadi gak usah sok jago nyelap-nyelip kayak orang kesetanan!

Well, mungkin juga loe iya, di saat lagi ride bareng bareng dengan rombongan yang cukup banyak, loe gak tau siapa yang ride di sebelah loe, di belakang loe, apalagi tentang riding skill mereka. Hanya karena anak klub motor bisa riding beriringan dengan cukup rapat dan intim, bukan berarti loe bisa begitu saja dapet atmosfer itu saat berkendara dengan banyak orang. Anak-anak klub itu sudah sering ride bareng dan hapal “kebiasaan” masing-masing rekannya sehingga kecepatan, gaya ambil tikungan, dan kebiasaan saat menyalip kendaraan lain, sudah lebih diketahui. Banyak orang (termasuk gue) lebih sering mencar dari rombongan besar bersama beberapa teman untuk bikin rombongan kecil yang “searah”, sehingga bisa lebih ringkas dan cepat. Pilihan mencar dengan lebih kencang bersama beberapa teman dekat akan lebih masuk akal daripada keceng-kencengan bersama orang yang loe gak kenal. Pastinya deg-deg-an sepanjang perjalanan, dan bisa membahayakan.

  1. Jaga jarak.

Gampang dibaca, gak segampang itu dijalanin. Ambil posisi, jaga interval yang cukup aman dengan rider di sekeliling, dan jaga kecepatan. Yang paling sering bikin kusut iring-iringan itu adalah kalo ada orang di tengah-tengah rombongan, yang ngegas-nya kayak orang main layangan.. kenceng.. kendor.. kenceng.. kendor.. loe kata kabel gas bikinnya dari tali kenur?!?! Biasanya di jalanan yang ramai, gue akan jaga jarak agak rapat dengan orang di depan gue, dengan harapan: angkot tidak seenaknya motong jalan. Kalo di jalan yang banyak tikungan, ambil jarak yang sedikit lebih lapang biar gak kena apes kalo ada orang yang kehabisan aspal buat nikung. Jangan sampe gara-gara kita gak bisa ngontrol motor, orang lain kena imbasnya. Kalo nyalip diantara kendaraan yang cukup kencang/besar, usahakan untuk nyalip dari satu sisi saja beriringan. Jangan coba coba sok kenceng dan nyalip dari sisi lain yang diambil oleh rombongan, karena jika pengemudi kendaraan sampai kaget karena ada tiba-tiba motor yang muncul, refleksnya kemungkinan akan menjauhi sumber kekagetan dan membahayakan jalur yang dipilih oleh rombongan.

  1. Kalo mogok gimana?

“Salah sendiri gak periksa sebelum ride!”. Komentar kayak gitu, aselik, gak membantu dan minta ditampol! Well, anyway, yang paling penting: KESELAMATAN, keselamatan loe dan juga rider lain di sekitar. Kasih tanda kalo loe ada masalah dan perlu berhenti secara aman dan tidak mengagetkan. Kalo ride sama temen-temen, biasanya mereka akan berhenti dan memberikan bantuan. Kasih tangan untuk mayoritas rombongan untuk meneruskan perjalanan dan kasih tangan untuk meminta tolong teman-teman yang sekiranya bisa membantu bila diperlukan. Semoga sih loe bisa memperbaiki masalah itu sendiri, tapi jika loe butuh bantuan orang lain yang memiliki keahlian khusus, atau kehabisan bensin, dimohon untuk selektif meminta tolong. Jangan sampai menghambat rombongan hanya karena kabel busi kendor atau lupa buka keran bensin.

  1. Sopan di jalan, jangan arogan.

Itu memang kampanye yang dulu digaungkan saat Throttle Twisting Sunday #3 yang diadakan tahun 2014 lalu. Meskipun tahun ini akan diusung tema baru, tapi kampanye itu masih perlu diingat, bukan hanya ke pengguna kendaraan dan jalan lainnya secara umum, tapi juga terhadap teman riding kita. Pikirkan orang lain sebelum mementingkan diri sendiri (kalo memikirkan lewan jenis yang seksi, itu biasanya penting sebelum menyenangkan diri sendiri). Lupa pake jaket atau pengen ngidupin rokok? Tunggu aja aja sampai lampu merah atau tempat pemberhentian berikutnya, agar tidak sampai memutus rangkaian konvoi rombongan. Jaga jarak dan beri tanda apabila akan/perlu memelankan kendaraan. Motor modifikasi / motor custom biasanya pake lampu rem yang cukup kecil dan sering kali gak nyala. Memberi tanda dengan lambaian tangan cukup mampu memberi peringatan kepada rider di belakang untuk mengatur jarak yang cukup. Jangan sembarangan ngerem mendadak! Situ enak motor custom-nya pake rem cakram, yang lain kan ada yang pake rem teromol… bahkan ada yang cuma punya rem teromol belakang..!! *tetiba teringat kejadian di Pluit tahun 2009… ck ck ck… *geleng geleng kepala *cekikikan sendiri

  1. Gak perlu semua orang jadi Instagraphygrapher**

Sebenernya ini gak pernah dibahas di artikel-nya Big Daddy Roth dulu, tapiiiiiii… gue tau kalo ada beberapa teman gue yang sering mengabadikan momen mereka berkendara diatas kendaraan dengan telepon pintar mereka. Mereka bisa, punya angle bagus, dan memang JAGO! Gue pribadi memang tidak bisa dan mengakuinya, sehingga gue gak perlu sok jago untuk melakukannya tapi malah membahayakan orang-orang di sekitar gue. Kalo di rombongan loe udah banyak yang melakukannya, simpen lagi aja telepon pintar loe dan enjoy the ride. Oh, jangan lupa minta di-tag sama yang mengabadikan yah. **instagraphygrapher adalah istilah absurd yang mulai didengungkan oleh teman-teman Rocket Company.

Well, segitu dulu dari gue, semoga bisa mengingatkan kita untuk bersama-sama menikmati keriaan riding bersama-sama.

Oleh Rizky Mandra.
Saint & Sinners Motorclothes (SSMC)

PS: gue paling tertarik dengan foto yang paling bawah, yang “sepertinya” merupakan foto dari Tom Fugle dan motor Panhead-nya. For your info, foto itu diterbitkan pada tahun 1967, dan Tom Fugle masih mengedarai motor Panhead tersebut (dengan wujud yang hampir tidak berubah), sampai tahun lalu (bukan karena berhenti riding, tapi drivetrain tersebut dipindahkan ke chassis lainnya). 47 tahun dengan setelan motor yang hampir gak berubah! Wow!

Lawless_RideInPack_1

Lawless_RideInPack_2

Lawless_RideInPack_3

Lawless_RideInPack_4

Lawless_RideInPack_5

 

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/gerombolan-gemuruh-how-to-ride-in-a-pack.html">
Twitter