EACH FOR THEIR OWN (GIVE RESPECT, GET RESPECT)

Lawless_EachForTheirOwn_1

Apa sih sebenernya ‘Kustom Kulture’ itu? Kalo di-search di Wikipedia maka penjelasan yang akan keluar adalah “American neologism used to describe the artworks, vehicles, hairstyles and fashions of those who drove and built custom cars and motorcycles“. Kembali menurut Wikipedia kebudayaan otomotif ini berkembang di Amerika pada era 50-an dan 60-an sampai dengan hari ini dan berakar dari budaya hot rod yang tumbuh subur di area Southern California pada era itu.

Lawless_EachForTheirOwn_2

Saat ini sih Kustom Kulture sudah bukan sekedar budaya milik Amerika saja, Kustom Kulture sudah berkembang dan mewabah di penjuru dunia. Di setiap tempatnya bertumbuh, baik di benua Eropa atau Asia, Kustom Kulture berkembang sejalan dengan kebudayaan lokal. Sebut saja di Jepang yang scene Kustom Kulture-nya sudah berkembang menjadi sebuah industri yang sangat maju dan mampu menghidupi para pelakunya. Hebatnya, tidak sekedar meniru, mereka juga sukses memadukannya dengan budaya mereka. Walaupun banyak di claim bahwa motor dan mobil garapan bengkel-bengkel Jepang jauh “lebih Amerika daripada karya (beberapa) builder Amerika”, tetapi kalau kita mencermati detailnya pasti ada sesuatu yang Jepang banget, baik itu sekedar kualitas craftmanship yang luar biasa, detail di paintjob atau stance motor.

Lawless_EachForTheirOwn_6

 

KUSTOM KULTURE AND OTHER (SOCIAL) MOVEMENT

Selain memiliki kemampuan untuk ber-asimilasi dengan kebudayaan lokal, Kustom Kulture juga sangat mungkin untuk dikaitkan dengan pergerakan-pergerakan yang mungkin sekilas tidak terlihat memiliki hubungan dengan Kustom Kulture itu sendiri. Beberapa contoh untuk skala lokal misalnya pergerakan Bali Tolak Reklamasi, pergerakan yang menentang rencana reklamasi teluk Benoa oleh pihak investor rakus ini sudah berjalan kurang lebih 3 tahun belakangan. Kawasan hutan bakau yang fungsinya sangat esensial untuk menjaga keseimbangan ekosistem pantai ini rencananya akan di reklamasi dengan kedok revitalisasi. Tentu saja agenda utama sebenarnya adalah menyediakan lahan untuk pembangunan apapun itu yang hanya akan menguntungkan investor semata. Dampak positif untuk lingkungan dan masyarakat sekitarnya juga tidak sebanyak dampak negatif yang akan dituai. Itu pun kalo ada dampak positifnya. Yang pasti sih, keseimbangan ekosistem terganggu, segala jenis flora dan fauna endemik terancam habitatnya, warga sekitar yang akan kehilangan sumber nafkah mereka sebagai nelayan, semuanya akan menjadi konsekuensi yang harus dibayar nantinya. Pergerakan ini sendiri dimotori oleh warga lokal yang sudah semakin muak dengan sepak terjang investor yang seakan tidak ada habisnya dalam meng-eksploitasi tanah mereka. Yang menariknya, dari para warga lokal yang menolak, banyak juga diantara mereka yang juga memiliki latar belakang Kustom Kulture yang kental, sebut saja musisi, hot rodder, seniman lokal dan penggiat budaya roda dua. Semua bergandengan tangan turun ke jalan menuntut agar reklamasi teluk Benoa di batalkan.

Lawless_EachForTheirOwn_5

Satu lagi contohnya adalah kampanye Ulah Adigung Project. Pergerakan yang dimotori oleh Elders Company ini fokus kepada gerakan amal yang menyantuni para forgotten heroes. Tokoh-tokoh dunia roda dua masa lalu yang terlupakan dan bahkan nasibnya bisa dibilang cukup menyedihkan. Berawal dari sebuah project charity untuk salah seorang pembalap legendaris Indonesia Tommy Manoch, yang terkenal dengan motor balapnya yang di hiasi lettering Ulah Adigung. Ulah Adigung sendiri adalah sebuah pesan dalam bahasa Sunda yang berarti jangan sombong atau jangan arogan. Pesan yang dibawa oleh Tommy Manoch pada era kejayaan karier balapnya ini dianggap relevan dengan kondisi scene roda dua saat ini. Dimana akibat dari tingkah laku norak dan arogan segelintir pengendara motor di jalanan yang berakibat kepada munculnya sentimen masyarakat akan seluruh pehobi motor. Selain untuk membantu para pembalap-pembalap senior yang kurang beruntung juga untuk meningkatkan kesadaran kita untuk tidak arogan di jalan. Karena toh sejatinya hak pengguna motor besar dan pengguna jalan yang lain sama. Tidak perduli apakah motor kalian ukurannya sebesar gerobak siomay atau berapapun jumlah uang di rekening gendut kalian. Untuk saat ini Ulah Adigung Project sudah semakin berkembang, melibatkan kawan-kawan dari scene roda dua.

Lawless_EachForTheirOwn_3

Satu contoh yang lain adalah gerakan yang dimotori oleh salah satu MC paling solid di Indonesia, Bikers Brotherhood MC. BBMC yang dikenal “sangar” dan image-nya dekat dengan “outlaw” MC ini sedang mengkampanyekan gerakan persaudaraan dan mengangkat budaya lokal. Hal ini bisa dilihat dari tagline “Benteng Pertahanan Terakhir Bangsa Ini Adalah Persaudaraan” yang diusung dan dalam beberapa kegiatan mereka. Hampir di setiap kegiatan mereka, BBMC selalu menyelipkan hal-hal yang kental bernuansa lokal. Selain itu ketika salah satu daerah di Bandung Utara yang berfungsi sebagai hutan kota terancam diakuisi investor untuk dijadikan hotel/apartemen, BBMC juga maju di lini depan mempertahankan dan menolak rencana investor bergandengan dengan warga Bandung lainnya.

Lawless_EachForTheirOwn_4

Atau ada juga seorang teman tattoo artist dan two wheels aficionado yang tidak banyak koar-koar di media sosial, tetapi di sela kesibukannya aktif terlibat di gerakan perlindungan dan pelestarian penyu.

Diatas adalah segelintir contoh betapa scene yang bermula dari sekedar budaya otomotif, bisa berkembang dan memberikan manfaat kepada hal lain diluar lingkup hobi mereka, bahwa Kustom Kulture tidak melulu tentang mobil hot rod dan motor chopper.

Tetapi benang merahnya ya memang itu, segala hal yang berhubungan dengan mobil dan motor, NYAWANYA YA DISITU!! Tidak harus Herli atau Impala memang, yang penting memiliki attitude yang sesuai dan passion untuk memajukan Kustom Kulture itu sendiri. Jadi ya gak harus aktif di pergerakan lain di luar scene juga, baru bisa dibilang living on the edge misalnya.

Lawless_EachForTheirOwn_7

Menurut gue pribadi sih, orang-orang yang berani memilih jalan hidup yang tidak dijalani orang kebanyakan dan mendedikasikan hidupnya disitu, bilanglah sebagai tattoo artist, pinstripe artist atau custom bike builder bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang tidak main aman. Garis bawahi bahwa faktanya, Kustom Kulture bukanlah “santapan” semua orang, juga fakta bahwa mereka memiliki keluarga, anak dan istri yang harus dihidupi. Dedikasi dan pilihan untuk bergelut di bidang-bidang tersebut tidak bisa dianggap hal remeh, hal yang sama berlaku dengan teman-teman yang memilih untuk “berjuang” di jalur musik independent misalnya. Apabila mereka memilih untuk fokus melakukan apa yang sudah menjadi pilihan jalan hidup mereka dan sekaligus having some fun while doing it, then you better respect that. Kustom Kulture mungkin sedikit banyak bisa diibaratkan seperti agama. Apabila mereka maju dan berjuang karena mereka fokus di bidang yang mereka cintai dan mereka percayai bahwa inilah Kustom Kulture yang mereka tau, then you might as well respect that too. Bukannya malah menggonggong dan nyinyir di media sosial menyangkal keyakinan mereka hanya karena misalnya teman yang lain tidak ikut berperan aktif di gerakan tertentu. Situ polisi Kustom Kulture? Intinya sih mutual respect aja. Perlu di ingat lagi semua orang berbeda, baik prioritas, passion dan kesenangan pribadi mereka, each for their own. Lagipula melawan tidak selamanya harus dengan strategi atau senjata yang sama, perlawanan bisa dilakukan dalam bentuk yang berbeda dan di medan pertempuran yang berbeda pula.

 

Oleh Wra Bakti dari SSMC dan Sekepal Aspal.
Foto diambil dari berbagai sumber dan bukan milik penulis atau Lawless.

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/each-for-their-own-give-respect-get-respect.html">
Twitter