#DGRJKT15. OUR GREATEST EXPECTATION, AND MORE!

“Cuman ada duit buat bikin sticker 500 biji nih, geng. Gimana?

“Ya udah gak apa-apa. Cukup lah. Paling yang dateng nanti 400-500 motor.”

Begitu kurang lebih penggalan percakapan di dalam grup Whatsapp panitia penyelenggara The Distinguished Gentleman’s Ride (DGR) Jakarta 2015 mengenai ramalan jumlah peserta tahun ini, mengacu kepada data jumlah peserta yang kami ketahui di tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2013 dihadiri sekitar 300 motor, dan 2014 dihadiri sekitar 400 motor. Tahun 2015 kami terkejut bisa menarik minat 2000 motor lebih untuk ikut serta!

Lawless_DGRJKT15_8

Masih dengan tujuan mulia yang sama yaitu untuk mendanai riset kanker prostat global, DGR sepertinya makin diminati oleh para motoris di Indonesia. Tahun lalu kota-kota yang mengadakan DGR hanya sekitar 5 kota, sedangkan tahun ini pun makin banyak yaitu 14 kota. Tidak hanya untuk amal, acara yang digelar serentak di seluruh dunia setiap tahunnya ini juga menjadi ajang para motoris untuk berkumpul, silaturahmi akbar, memperkaya network dan kenalan baru, serta bersenang-senang riding keliling kota tanpa membedakan merk motor, jenis modifikasi, besarnya cc motor, selama masih dalam nafas dan kultur yang sama.

Beberapa pertanyaan gue dapat setelah posting beberapa gambar di medsos. Paling pelik adalah diskusi soal jenis motor yang bisa atau disarankan untuk ikutan DGR. Pada dasarnya, acara ini pertama kali dibuat oleh Mark Hawwa dari komunitas Sydney Café Racer untuk kemudian dapat dinikmati oleh komunitas-komunitas custom motorcycle lain di seluruh dunia. Kultur custom motorcycle ini (atau yang sering disebut sebagai ‘kustom kulture’) memiliki banyak elemen lain selain motor custom. Tetapi bicara soal motor yang selama ini memiliki satu nafas dengan kustom kulture tentunya tidak semua. Sebagai contoh, gue pernah mendapat sebuah pertanyaan,

“Motor Yamaha Mio (skuter matic) dimodif velgnya diganti emas, knalpot diganti yang racing, dan diceperin boleh ikutan gak?”

Skutik jenis seperti itu (sayangnya) tidak termasuk di dalam sejarah kustom kulture tadi, juga tidak terhitung sebagai motor klasik atau vintage. Berbeda dengan skutik Vespa misalnya. Vespa sejak dulu dengan sejarah adanya Mods dan lain-lain sudah menjadi bagian penting dari kustom kulture. Scooter seperti street cub juga termasuk karena sejarahnya juga cukup panjang dalam dunia modifikasi dan lifestyle dari skena kustom tersebut. Balik lagi ke skutik modern sejenis Mio tadi, selain memang setau gue tidak masuk kategori motor DGR, populasinya di Jakarta terlalu banyak. Berhubungan dengan itu, maka untuk Jakarta gue rasa idealnya memang tidak dimasukkan guna membatasi jumlah peserta DGR, supaya tidak terlalu banyak yang bisa mengakibatkan macet yang luar biasa di jalan, meresahkan masyarakat dan aparat setempat. Seandainya pun ada yang datang mau ikutan memakai motor seperti itu, tidak akan kami usir. Karena memang kami tidak melarang, tetapi kami tidak menyarankan untuk memakai motor itu. Untuk menjaga tema dan jumlah peserta DGR supaya tetap ideal dan bisa berlanjut terus, lebih baik pinjam dulu saja motor teman lo yang masuk dalam kategori DGR untuk ikutan.

Lawless_DGRJKT15_6

Lawless_DGRJKT15_10

Lawless_DGRJKT15_7

Lawless_DGRJKT15_11

Lawless_DGRJKT15_9

Kembali ke event DGR tahun ini, dari Indonesia berhasil mengumpulkan sumbangan dana sebesar $2.157. Target sumbangan global tahun ini adalah $3.000.000, tetapi belum dapat tercapai. Jumlah rider kita di Indonesia juga terbesar keempat di dunia. Sungguh sebuah hasil yang kami sangat tidak sangka. Tentunya seiring dengan perkembangan dan animo yang meningkat, mengatur riding jadi makin sulit. Oleh karena itu tahun ini panitia DGR memutuskan untuk set beberapa check points untuk kemudian didatangi oleh para peserta, dari start sampai finish. Check points ini gunanya untuk mengurai jumlah rombongan yang jalan beriringan, karena untuk menuju check points tersebut tidak ditentukan kapan waktu jalannya, sama siapa jalannya, dan lain-lain; selama peserta dapat sampai di finish point dalam 4 jam.

Lawless_DGRJKT15_5

Lawless_DGRJKT15_4

Lawless_DGRJKT15_1

Lawless_DGRJKT15_2

Lawless_DGRJKT15_3

Semoga tahun depan kita bisa menyelenggarakan DGR yang lebih seru, lebih terorganisir, dan pastinya lebih nyaman. Terima kasih untuk tim Sekepal Aspal Indonesia, Troupe Industry, Motorplus, Forstand Projekt, Darling Rice Club, Gastank Magazine, RAT, THEGASPOL.com, Beergarden, Gelang Harapan, dan tentunya seluruh peserta DGR.

 

Oleh Sam Bram, host DGR Jakarta 2015.
Foto oleh Forstand Projekt.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/dgrjkt15-our-greatest-expectation-and-more.html">
Twitter