BAND TO THE BONE

Tumbuh di waktu band-band heavy metal dan glam rock sedang berjaya membuat gue sangat mengerti bagaimana sebuah band atau jenis musik dapat mengubah hidup seseorang. Band-band seperti Motörhead, Iron Maiden, Metallica, dan Mötley Crüe adalah dewa-dewa gue yang agung, dengan lagu-lagu mereka yang selalu berhasil masuk chart Top 40 dan jutaan die-hard fans di seluruh dunia.  Dan image yang ditampilkan oleh merekalah yang berhasil membuat kepala gue menoleh setiap kali sedang berada di dalam toko kaset dibandingkan dengan ratusan judul kaset lainnya yang ada di toko itu. Image-image yang menurut gue keren, berbeda, tiada duanya (walaupun rata-rata yang gue suka gambarnya tengkorak-tengkorak lagi), dan sangat edgy bahkan kadang ekstrim untuk jamannya.

Bisa dibilang bahwa hidup gue banyak berubah setelah mendengarkan karya Metallica di album “… And Justice For All”, atau album “Theatre of Pain” dari Mötley Crüe, dan juga lagu “Number of The Beast” dari Maiden. Bukannya tidak mungkin gue mentattoo gambar timbangan, pentagram, atau angka 666 di tubuh gue. Tapi nyatanya belum terjadi juga sampai sekarang. Mungkin ada hubungannya sama ketakutan gue terhadap jarum, atau mungkin males ribet dengan calon mertua kelak, keinginan membuat sebuah atau dua buah tattoo masih sering seliweran di kepala gue. Yang pasti sempat terbersit pikiran, “Hey, keren juga nih kalau gambar ini gue jadiin tattoo. Tapi suatu hari gue akan nyesel gak ya punya tattoo ini?”

Alasan orang yang membuat tattoo sebuah band di badannya bisa bermacam-macam, seperti kecintaan terhadap musiknya, artworknya yang keren, kenangan tersendiri, dan bermacam alasan lainnya. Satu hal yang pasti, tattoo akan “nangkring” di kulit lo selamanya (kecuali lo berbuat curang dengan menghapusnya dengan teknologi laser, atau seterika). Pertanyaannya adalah apakah lo akan suka dengan tattoo itu atau band itu selamanya? Ataukah band atau jenis musik tersebut akan ditelan oleh waktu dan menghilang atau sesederhana akan tidak keren lagi suatu hari nanti? Gue punya contoh yang agak keluar topik sedikit. Dulu jaman masih SMP, apparently Looney Toons was a big hit among us youngsters especially girls. Gue punya satu teman laki-laki yang suka sekali dengan karakter burung kecil, kuning nan lucu bernama Tweety. Pasti sudah pernah dengar dong? Entah karena memang beneran suka, sok imut, atau supaya punya banyak teman wanita, sampai saat ini belum jelas bagi gue. Suatu hari yang cerah, kami sedang ada di jam istirahat sekolah, dan dia ngomong di depan gue dan dua atau tiga teman sekelas lainnya, “Eh, gue mau bikin tattoo gambar Tweety ah di lengan sebelah kiri kalo sudah lulus SMA.” I thought to myself, what the fuck?! Pengennya sih langsung tertawa ngakak, tapi kok waktu gue lihat teman-teman gue yang lain mereka diam saja. Jadi gue menahan tertawa gue dalam hati. Kenapa gue mau tertawa? Tidak hanya karakter itu tidak manly, tapi gue punya feeling kalau dia suatu hari akan menyesal. Kabar baiknya adalah sampai dia lulus SMA dia tidak jadi membuat tattoo itu. Mungkin juga dia saat itu sudah tidak suka lagi dengan Tweety. Artikel ini gue tulis Mei 2012 dan sorry to say Tweety sama sekali tidak keren saat ini (atau jangan-jangan memang tidak pernah keren juga). Buat gue, kalau sebuah artwork tidak memberikan lo sebuah arti yang signifikan dan dasarnya juga udah gak bagus, artwork itu kurang pantas untuk dijadikan tattoo. Gue juga yakin dia tidak bisa banyak mengelaborasi jawaban apabila gue tanya apa alasan dia ingin membuat tattoo itu. Tentunya itu adalah hak masing-masing orang, but I still think it’s good for him that he didn’t proceed with the tattoo plan. The lucky bastard made the right choice.

Anyway, berbeda dengan contoh yang gue berikan diatas, musik dan artisnya bisa dicintai oleh penggemarnya sampai mendarah daging. Karya-karya mereka sangat mungkin untuk bisa dijadikan pedoman berpikir sampai dengan gaya hidup seseorang. Maka dari itu tidak sedikit orang yang akhirya berani menorehkan tinta abadi diatas badannya sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, dan kecintaan terhadap musik dan artis itu. Sampai saat ini gue mengenal cukup banyak orang yang akhirnya memutuskan untuk membuat tattoo band kesukaannya. Bisa berjumlah puluhan orang. Malah mungkin bisa lebih karena gue cuma menghitung orang-orang yang tattoonya terlihat, sedangkan pasti banyak orang yang tattoonya ada di bagian tubuh yang tertutup pakaian. Artwork band-band seperti Motörhead, The Misfits, Black Flag beberapa kali terlihat diatas kulit teman-teman gue. Belum lagi tattoo portrait artis atau selebriti favorit.

Di bawah ini adalah beberapa teman yang berhasil gue temui, foto tattoonya, sekaligus wawancara singkat mengenai tattoo band/musik/artis yang dibuatnya, dan juga hal-hal ngaco lainnya.

Mya Santosa

Music director 101 Jak FM.

Tattoo : artwork band ethereal post-rock dari Islandia, Sigur Rós, dari albumnya, Ágætis byrjun.

 

Kenapa lo mentattoo artwork ini?

Karena gue suka meaning-nya. Itu juga salah satu album Sigur Rós yang gue suka.

Emang meaning-nya apa sih?

Mmm… “a brand new life” atau “a brand new startor something like that. Pokoknya artinya bagus deh. Gambarnya agak serem sebenernya tapi artinya warm banget. Jadi akhirnya tidak terlihat serem lagi buat gue.

Ooookaaayy deh… Kalo lo punya kesempatan untuk undo tattoo ini mau gak? Lo seneng dengan tattoo ini?

(agak lama)… Seneng.

Seneng aja?

GUE SENANG SEKALIIIIII… (mencoba meyakinkan walau agak kurang berhasil).

Kalo suatu hari Sigur Rós gak keren lagi do you wanna keep the tattoo?

Iya. Karena gue awalnya suka dengan artwork dan artinya, bukan dari bandnya.

Apakah ada tattoo band lain yang lo pengen buat?

Ada. Artwork baby “Zooropa”-nya U2. Karena gambar baby-nya menggemaskan banget. Apalagi setelah gue nonton konser “360 World Tour”-nya U2, disitu ada animasi dari baby itu.

Apa pendapat lo tentang cowok dengan tattoo band?

Gak apa-apa, asal bandnya gue juga suka. Gak tacky.

 

Unboundkill

Tattoo artist dari Lawless Tattoo, vokalis band heavy metal, Speedkill.

Tattoo : foto realis penyanyi pop dari Amerika, Katy Perry.

Kenapa lo buat tattoo bergambar Katy Perry?

Karena menurut gue Katy Perry itu penyanyi cewek yang keren, gak sok ngerock, dia tetep ngepop, gak kayak Avril Lavigne yang gayanya ngerock tapi musiknya pop, cemen pula!

Kenapa lo taro tattoonya di punggung kanan? Kenapa gak di dada kiri deket hati lo? Ciaelaaah…

Karena kebetulan disitulah spot yang masih kosong hehe…

Ada portrait artis lain yang pengen lo tattoo di badan lo suatu hari?

Ada. Joey Ramone, Lemmy Kilmister, sama Morrissey. Tapi bingung spotnya haha… Lahannya mulai habis.

Kalo suatu hari Katy Perry menjadi penyanyi yang cupu, lagu-lagunya jelek, dan udah gak kece lagi lo mau hapus gak tattoo itu?

Gak bakal! Karena buat gue Katy Perry bakal tetep keren sampe kapanpun juga.

 

Rev Dexter

Director of Photography, fotografer, Greaser’s Temple lifetime crew.

Tattoo : logo band punk rock legendaris dari Amerika, Black Flag.

Logo Black Flag lo tattoo di bagian tubuh mana? Siapa artis tattoonya?

Ok, logo Black Flag ada di pergelangan tangan kiri gue tepat di permukaan kulit urat nadi. Awalnya mau dibuat tepat seperti Henry Rollins, cuma sudah tidak ada tempatnya haha… Tattoo artistnya adalah Chiwawa Headhunter yang sekarang bergabung di Lawless Tattoo.

Apa yang lo suka dari Black Flag?

Well… Musik, lirik, lagu, artwork cover albumnya, the whole thing basically. Selain itu Black Flag, The Misfits, Motörhead, Suicidal Tendencies, merupakan band-band favorit gue di tahun 80-an. Sorry, I hate shitty 80’s glam rock!

Apa pendapat lo tentang orang-orang yang punya tattoo band tapi tidak suka sama musiknya, bisa jadi cuma suka logo atau artworknya saja?

Nah kalo itu sepertinya hak mereka ya. Mungkin gak ada bedanya dengan orang Asia bergaya skinhead lengkap dengan logo Nazi hahaha… Cukup menyedihkan.

Lo pernah punya motor Harley Davidson dan sekarang punya mobil tua. Any chance of seeing a band artwork on those machines?

Dulu waktu SMA, (Harley Davidson) WLA gue ada gambar Zorlac X Metallica yang gue gambar sendiri pakai spidol hahaha… Mobil gue belum selesai projeknya, tapi mau sih ada band artworknya, seperti early years-nya Rob Zombie. A mix of rock, surf, and Ed Roth.

Morris, Reyes, Cadena, or Rollins?

Dez Cadena and Henry Rollins. Totally different breed and attitude. True heroes!

 

Gue cuma berhasil menemui 3 orang teman gue selama proses penulisan artikel ini, walaupun masih banyak lagi teman-teman lain yang memiliki tattoo artwork band favorit mereka. Mungkin gue akan bikin artikel band tattoo jilid 2 suatu hari nanti, who knows. Apapun pertimbangannya atau kebimbangannya, kecintaan mereka terhadap band/artis dan artworknya tadi membuat mereka yakin dan loyal akan pilihan mereka. Masalah apakah band atau artis yang mereka dedikasikan di atas kulit mereka akan tetap keren atau tidak bukan sebuah masalah yang berarti. Artwork atau karya dari band dan artis diatas tadi sangat influensial terhadap hidup mereka, or maybe as a reminder of something important. Unlike that Tweety bullshit that I explained before. Tattoo adalah sebuah identitas, gaya hidup, dan sudah pasti adalah sebuah bentuk seni yang kekal dan sangat ekspresif. These guys are living life to the fullest. Everyone only live once. This is what I call “living your custom dream”.

Sammy Bramantyo, Lawless Jakarta.

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/band-to-the-bone.html">
Twitter