May 8, 2012

APALAH ARTINYA SEBUAH NAMA

Kalau tidak salah, judul diatas merupakan terjemahan dari sebuah kutipan terkenal dari seorang pujangga ternama. Memang, sebuah nama adalah yang membedakan antara sebuah entitas (apapun itu), dengan entitas lainnya. Namun, sebuah nama juga seringkali merupakan Peng-ejawantah-an dari doa, harapan, atau tujuan dari si pemberi nama. Ada juga, nama, yang terbentuk dari perbedaan yang mendasar, yang merupakan kodrat pemberian Tuhan Yang Maha Esa… (*kok artikel ini mulai terlalu serius yah?)

Kenapa gue mengangkat topic tentang nama? Fenomena menggelitik yang sering terjadi di masyarakat kita (eh, yang baca artikel ini kebanyakan orang Indonesia kan?) adalah, nama, sering kali dijadikan label yang mengkotak-kotak populasi kedalam golongan-golongan tertentu, dimana perbedaan-perbedaan antara golongan tersebut seringkali ditekankan, dan diperjelas, pada akhirnya memecah-belah populasi tersebut kedalam golongan-golongan yang tidak mau saling berbaur antara satu sama lain. Sebuah fakta yang lucu adalah, beberapa Media (tidak semuanya lho) yang memberikan label yang salah terhadap sebuah golongan. Yang lebih lucu lagi adalah, masyarakat kita banyak yang menelan mentah-mentah informasi tersebut, bertindak-berbicara-berdiskusi berdasarkan informasi yang kurang tepat tersebut. (*masih terlalu serius yah?)

Pemilihan nama yang gue maksud adalah: seringnya orang memberikan label modifikasi yang dianggap membedakan hasil modifikasinya dengan hasil karya orang lain. Perkataan-perkataan seperti “udah liat Chopper-nya si A belum?” atau judul artikel “Bobber Karya Anak Bangsa”, atau, yang menurut gue paling poll adalah: “si X motornya dibikin Bratstyle gitu..”. Agak lucu rasanya mendengar komentar masyarakat kebanyakan yang me-label-i motor seseorang. Masyarakat cenderung memberikan label terhadap motor modifikasi yang berkeliaran di jalan raya, dimana pemberian label tersebut didasari oleh sumber informasi yang kurang tepat. Di negara yang penduduknya sangat suka komentar ini, media nasional merupakan sumber informasi utama. Celakalah kita semua, kalau media yang dipercaya tersebut, menerbitkan informasi yang tidak akurat, hanya berdasarkan opini penulisnya tanpa edit berarti, dan informasi tersebut dipercaya sebagai fakta.

Selain pelabelan yang tidak berdasar tersebut, masyarakat seringkali menjauh-memisahkan diri-berlagak sok eksklusif karena modifikasi yang mereka pilih. Sebagai contoh: anak-anak yang naik chopper ga mau bergaul sama anak-anak superbike, para pengendara vespa tidak mau dekat-dekat pengendara motor-motor bergaya flattrack. Contoh lain yang cukup parah, tidak ada yang mau bergaul dengan pengendara motor-motor yang menggunakan sirine dan lampu blitz seenaknya di jalanan, karena dianggap norak (*eh, kalo yang ini beneran ding). Terjadi jurang jurang pemisah yang terjadi antara para penikmat modifikasi, hanya karena gaya modifikasi yang mereka anut, sudah ada “label” beserta pakem yang melekat. Padahal, jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada hasrat yang terpendam untuk tertarik pada gaya modifikasi yang lain, diluar pakem yang berlaku.  Gimana jadinya kalo seseorang yang penggila kebut-kebutan jalanan aspal ala street-fighter kepincut dengan gaya flattrack yang biasa main di tanah? Ato anak-anak penyuka motor turing dengan setang ape-hanger kepincut performance parts buat balapan di sirkuit? Atau ada penyuka motor Chopper ala Amerika tapi di-mix dengan beberapa spare-part klasik motor Eropa? Jika dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, toh kita semua kan sebenernya “Anak Motor”, apapun motor yang kita kendarai.

Dengan kecanggihan teknologi internet, banyak media di luar sana yang memberikan informasi terkait dengan jenis atau gaya modifikasi yang beredar di nagri sana. Selain foto-foto, banyak juga yang menerbitkan artikel teknis (yang jarang dibaca banyak orang) yang terkait dengan modifikasi tersebut. Atau, paling minimal, di dalam jejaring internet, terdapat informasi penerbit-penerbit di luar sana yang menelurkan majalah-majalah atau buku terkait dengan modifikasi yang patut dijadikan acuan. Meskipun kita tidak bisa 100% persen percaya apa yang kita baca di majalah (percaya tuh sama Tuhan YME, jangan sama majalah), minimal jika mayoritas sumber informasi yang kita baca, menyebutkan hal yang sama, berarti hal tersebut bisa dikatakan mendekati kebenaran.

Apabila dirasa informasi-acuan-panduan yang dipunya sudah cukup mumpuni, sebagai orang yang lebih bijak sebaiknya kita gak memandang sebelah mata orang-orang yang motornya tidak sama dengan motor kita. Semua orang punya alasan dan pengaruh (bahasa englaish-nya Influence) dalam memodifikasi kuda besi kesayangannya. Jangan pernah mengkotak-kotakan golongan modifkasi motor orang lain karena semangat modifikasinya sama dengan kita. Jangan pernah mencibir ato memisahkan diri dengan mereka, karena siapa tau di masa yang akan datang, ilmu dan pengetahuan kita akan “nyampe” dan kita baru mengerti dan bahkan suka gaya modifikasi motor tersebut. (*walaupun sampai sekarang gue masih gagal paham kenapa ada orang-orang yang memodifikasi motor mereka dengan lampu blitz + sirine, lalu berkendara seenaknya di jalan, merasa paling jagoan. Norak bukan?)

Kalo cuma ngemeng doang, semua orang juga bisa. Oleh karena itu, dibawah ini adalah beberapa panduan ringan tentang beberapa istilah atau label yang sering digunakan oleh masyarakat awam. Beberapa dari “nama” beserta penjelasannya yang dicantumkan dibawah ini, disadur dari tulisan editorial majalah Greasy Kulture Issue # 8 yang ditulis oleh Irish Rich*. Beberapa nama lain dan penjelasannya merupakan informasi yang gue rangkum dari beberapa sumber, baik lisan maupun tulisan. Kalau mau percaya, silahkan, kalau tidak mau percaya dan bilang gue sok tau, silahkan juga.

 

Bobber.

Banyak yang sering menyalah-artikan Bobber sebagai motor yang dimodifikasi dengan tampilan menjurus gendut, atau motor yang padat dengan velg ukuran 16” atau 15”. Padahal nama/istilah ini disadur dari gaya rambut perempuan era 1920 – 1930an, saat banyak wanita yang memperjuangkan emansipasi/kesamaan hak. Pernah dengar cewe-cewe di salon minta dipotong rambutnya dengan gaya “nge-bob”?? (*skali-skali boleh dong main-main ke salon, jangan nongkrong di bengkel melulu) gaya rambut perempuan yang dipangkas ramping mendekati potongan rambut lelaki inilah yang menjadi acuan gaya modifikasi motor di era 1940an ini. Seperti pemangkasan pada rambut, pemangkasan juga terjadi pada aksesoris motor yang digunakan. Fender (sepakbor) depan dan belakang asli akan dipangkas (di-bob) untuk memperingan bobot atau agar lebih aerodinamis. Ada juga yang menerondoli sebagian dari parts yang bisa dicopot. Secara garis besar bobber masih memodifikasi spare-parts/aksesoris aslinya agar lebih mudah dibawa kencang. Jadi, Bobber itu bukan karena motornya terkesan gendut yaa…

 

Chopper.

Istilah ini yang paling sering digunakan orang saat melihat motor custom di Indonesia. Sesuai dengan namanya, beberapa bagian dari motor di-Chop atau dipotong. Pemotongan ini bisa dibilang selangkah-tiga langkah lebih banyak dari pemangkasan & penerondolan di Bobber. Di era 1950-1960an, pemotongan yang dilakukan biasanya berkutat di braket-braket yang tidak dibutuhkan (braket koil, braket klakson, dsb), penggantian fork depan dari springer/cangkrang menjadi teleskopik, sampai penggantian tangki bensin, fender belakang dengan model yang lebih kecil/ramping. Praktk pemotongan tangki standar, dimana bagian tengah tangki dihilangkan agar tangki menjadi lebih ramping, juga mulai dapat ditemui di modifikasi chopper era ini.

Selain bracket, pemotongan yang terjadi juga merambah ke area komstir sehingga bisa diatur sudut kemiringannya. Pemotongan di bagian komstir ini juga seringkali diikuti dengan perubahan backbone dan tubing depan sehingga mampu merubah geometri sasis secara radikal, dan pastinya merubah tampilan motor secara keseluruhan. Modifikasi era 1960 – 1970an seperti inilah yang mampu membuat opsi pilihan modifikasi choppers hampir tak berbatas. Beneran bisa jadi apa saja! Tentunya tetap memperhitungkan proporsi dong…

 

Digger.

Gaya Digger ini muncul di pertengahan-akhir era 1970an. Modifikasi ekstrim dari mulai konfigurasi frame, dapur pacu dengan doping gila-gilaan, dan paintwork psychedelic-goldleaf, menguasai jalanan Amerika yang lurus, panjang, dan kosong pada waktu… selain tampilan yang super sangat keren, motor-motor ini juga mumpuni diajak beradu kecepatan di drag-strip baik yang resmi maupun sirkuit dadakan balap liar.

 

Board Track.

Boardtracker mungkin bisa dibilang sebagai bentuk pertama dari motor. Motor-motor tahun 1910 – 1920an berpacu di lintasan oval mirip Velodrome yang terbuat dari kayu. Bentuk motor balap era tersebut, terbilang unik. Mulai dari bentuk frame dimana posisi jok sejajar dengan komstir karena motor pada era tersebut merupakan penterjemahan dari sepeda yang dijejali mesin motor, sampai dengan posisi setang yang unik agar lebih aerodinamis. Posisi setang tersebut juga memang menyesuaikan dengan adat balapannya yang minim tikungan. Kalo balapannya sarat kelokan, ribet juga dengan setang seperti itu.

 

Brat Style.

BRAT STYLE itu nama Bengkel di Jepang, bukan jenis /gaya modifikasi..!! (*gemesh deh). Kalo loe buka www.bratstyle.com, akan masuk ke sebuah web dari sebuah bengkel yang memajang motor-motor kreasi mereka.  Kebanyakan hasil-hasil karya mereka menggunakan motor-motor ber-suspensi belakang ganda seperti Yamaha XS, Honda CB, Kawasaki W, Harley-Davidson FXR atau Dyna. Hasil karya bengkel ini dengan mudah dapat ditiru oleh motor-motor yang banyak beredar di negara kita. Mulai dari Honda CB125, Binter Merzy, sampai Suzuki Thunder. So, mulai saat ini, ingat, BRAT STYLE itu nama bengkel, bukan gaya modifikasi!!!

 

Jap(anese) Style.

Seperti cerita Brat Style diatas, banyak yang salah mengartikan gaya motor di bawah ini dan menyebutkannya sebagai Jap Style.

Motor diatas merupakan buah tangan Shinya Kimura, tokoh utama dari Zero Engineering, yang mempopulerkan karya motor yang berbasis modifikasi frame gooseneck (bisa dilihat dari extension komstir yang lebih maju dan dibentuk seperti leher angsa yang anggun). Gooseneck sendiri sudah lebih banyak terlihat di Amerika dan Eropa sekitar tahun 1970an. Kesamaan yang banyak terlihat di modifikasi-modifikasi dari Negeri Matahari Terbit tersebut adalah mereka berani untuk tabrak gaya, dan tidak tanggung-tanggung (bahasa popular-nya “All Out”) contoh motor dibawah menurut gue sangat cuco’ untuk istilat tabrak gaya tersebut. Frame Harley rigid tahun 1950an, diisi mesin bongsor modern S&S Evolution 113ci, dipadukan dengan fairing ala motor balap Inggris atau Jepang. Berani yah!!

Selain itu, orang-orang Jepang berani untuk memaksimalkan mesin-mesin uzur untuk berjibaku dengan mayoritas mesin modern, dan dikombinasikan dengan modifikasi-modifikasi hand-made dengan nilai kerajinan tangan yang tiada dua-nya.

Kalo mau bilang Jap Style, menurut gue, inilah yang paling sesuai… BOSOZOKU..!! yakin gue kalo ini Cuma ada di Jepang.

 

Swedish Style.

Lain ladang lain ilalang, lain benua lain belalang (*eh) lain gaya maksudnya.. (*eh lagi) sebenernya ga lain-lain amat siy. Kalo di Jepang pergeseran gaya motornya lebih condong ke arah craftsmanship atau hasil karya tangan, di Eropa (meskipun namanya Swedish) pendekatannya lebih ke arah minimalis-klimis-teknologis (*halah). Motor-motor yang banyak beredar di Eropa cenderung untuk menggunakan garpu depan yang lebih panjang, kabel-kabel yang disembunyikan, dan material teknologi yang lebih maju seperti billet. Kalopun ada yang memilih aliran klasik, jadinya pol-polan restorasi. Beberapa produsen barang-barang replica vintage, pusatnya justru di Eropa lho. Psst… dan tidak hanya kaum Pria yang doyan modif disana. Motor cantik berwarna merah dibawah ini dimiliki oleh seorang Perempuan bernama Minna dari Finlandia. Cukup hardcore kan?

 

Hot Rod.

Hmm… sering denger istilah ini? Kebudayaan Hot Rod berpusat kepada kehidupan kebut-kebutan anak-anak muda Amerika, baik secara legal maupun kebut-kebutan di jalan raya. Salah satu film yang berpusat pada budaya ini adalah The American Graffiti. Hot Rod sendiri biasanya mengacu kepada modifikasi mesin mobil untuk kebutuhan Drag Race. Mobil-mobil yang sering digunakan berputar pada mobil Amerika sebelum tahun 1970an (terjadi krisis BBM disana pada era tersebut). Mulai dari Ford Model A tahun 1930, sampai dengan mobil bongsor  bermesin besar (sering juga disebut Muscle Car) era tahun 1960an seperti Ford Mustang, Chevrolet Camaro, Dodge Charger dan Pontiac GTO. Selain dari Amerika, salah satu (atau dua) contoh mobil “asing” di benua Amerika yang masih dianggap mobil Hot Rod itu adalah beberapa type VW, dan juga Datsun 240Z Fairlady.

Di era modern sekarang, kebudayaan Hot Rod mengacu kepada akar lahirnya dulu, Mobil Kencang. Kalau mau diterjemahkan, sekarang mobil-mobil yang dibilang Hot Rod itu antara mobil restorasi  yang memang terkenal di era-nya dulu, atau mobil-mobil modern yang memang dilengkapi mesin-mesin berjiwa balap yang kencang. Mobil-mobil yang patut berjibaku di arena balap seperempat mil. Modifikasi Hot-rod mengacu kepada teknik-teknik pengentengan body mobil se-enteng-enteng-nya dan menjejalkan mesin bertenaga sebesar-besarnya. Salah satu alasan kenapa mobil-mobil 1930an sangat popular di kancah per-Hot Rod-an, adalah karena mesin (bisa dilengkapi dengan supercharger ataupun multi-karburator) bisa di-set dengan mudah pada rangka, dan body mobilnya bisa diatur sedemikian rupa untuk memangkas bobot dan lebih aerodinamis (pemangkasan atap, nge-set body sejajar dengan rangka – bukan diatas rangka, dsb).

Bagi para pembalap/modifikator jalanan, seringkali mobil modifikasi yang masih setengah jadi, sudah dibawa jalan-jalan untuk ngetes (maklum, namanya juga darah muda, sering gak sabaran). Mulai dari ngetes mesin apakah sudah cukup kencang, ataupun ngetes settingan body apakah ke-ceperan-nya sudah cukup. Biasanya mobil-mobil setengah jadi ini dicat ala kadarnya untuk menghindari karat dengan pylox, dan teknik pengecatannya pun sekenanya. Kalaupun setelah dites masih ada lecet-lecet karena keceperan, atau mentok sana mentok sini, sangatlah mudah (dan murah) untuk memperbaikinya. Tinggal ketok ulang, dan semprot lagi dengan pylox.  Inilah yang sering dilihat sebagai budaya cat doff di dunia underground Hot Rod. So, bisa dibilang, kebudayaan Hot Rod ini gak cuma cat hitam doff, velg merah dan ban white wall, Hot Rod berkiblat pada performance.

Di dunia sepeda motor, dapat dibilang hampir tidak ada wujud nyata motor hotrod itu seperti apa. Pakem yang bisa diacu hanya satu, KENCANG! Salah satu sepeda motor yang di claim sebagai Factory Hot Rod, adalah Harley Davidson Sportster.

Asal muasal Sportster dilahirkan ke dunia ini pada tahun 1957 adalah untuk melawan dominasi motor motor keluaran Eropa yang merajai dunia balap sirkuit oval tanah Flatrack. Didesain untuk ringkas, padat, bertenaga besar, dan mudah dikendalikan, Sportster dilengkapi dengan konfigurasi mesin 900cc kompresi tinggi, casing girbox yang menyatu dengan casing mesin, 4 noken-as, dan rasio gigi rapat yang mampu membawa pengendaranya melesat dengan cepat.  Selain di balap sirkuit, kesuksesan Sportster juga merajai sirkuit drag-race di seluruh Amerika. Mesin 900cc kompresi tinggi tersebut mampu mengalahkan motor-motor lain dengan kapasitas mesin yang lebih besar. *note pribadi: setelah dapat infomasi ini, jangan pernah lagi yah bilang Sportster itu motor untuk perempuan. Yang ngaku laki-laki tulen pun belum tentu bisa menaklukan motor ini.

Jadi, setelah baca artikel ini, mau dikasi nama apa motor gue? Harley-Davidson FXR Police tahun 1992, beberapa bagian frame dipangkas, diceperin, ganti ban yang profilnya tebal, pake fender motor tahun 1936, upgrade sistem pengapian, karbuartor, dan nokken-as. Apa jadi Chop-Bob-Brat-Rod style?? Pastinya tidak, motor gue namanya “Marni” =)

Rizky – Mandra

Credits: Irish Rich adalah pemilik/modifikator dari Shamrock Fabrication di Bloomfield, Colorado, AS. Rich sudah berkecimpung di industri motor custom dan HotRod selama lebih dari 44 tahun. Kreasinya pernah tampil di majalah-majalah seperti Street Choppers, DicE Magazine, Easyriders, the Horse, dll. Sepak terjang Rich dapat dilihat di blog: irishrichcustomcycles.blogspot.com. Selamat membaca.

Rizky Mandra is one of the SSMC crew, a soon-to-be father (congrats, bor!), and a die-hard motorcycle, music, and tattoo fan.