AADF. ADA APA DENGAN FXR

Buat yang ngikutin artikel-artikel yang gue tulis, mungkin beberapa kali pernah gue singgung soal si Marni. Yup, motor semok andalan gue yang basisnya merupakan H-D tipe FXR-Police ’92. Dengan sedikit rasa bangga, gue sering sekali menceritakan tentang Marni bagaikan salah satu harta karun terpendam yang gue temukan dari perut bumi Indonesia. Buat gue, memang begitu adanya…

Dalam 2 – 3 tahun belakangan, demam FXR melanda dunia. Semua orang sepertinya mencari FXR sebagai kendaraan andalan baru mereka. Harga jual melambung tinggi untuk model yang dulu tidak banyak dilirik oleh khalayak umum. This FXR-crazed fever memang banyak terpengaruh dengan trend freestyle H-D yang sedang hangat di Amerika. Anak-anak muda yang dulunya main motorcross, mulai beranjak dewasa dan beralih ke kuda besi V-Twin Amerika. Pilihannya didominasi dengan model yang memiliki shock-samping (populasi terbesarnya diisi oleh Dyna, dan Sportster), dimana FXR merupakan salah satu model yang sudah menjadi CULT di genre ini.

Sejak pertama kali “belajar di institusi formal” soal motor Harley-Davidson, gue mulai mengerti kenapa type motor yang banyak dipakai oleh para geng (ciyeeh, geeng..!!) motor outlaw di Amerika itu, memiliki kasta yang cukup tinggi di kalangan pecinta kuda besi Amerika. Mulai dari desain, kelincahan, dan tenaga-torsi besar yang dimiliki FXR, mampu memposisikan motor ini sebagai, konon, motor dengan pengendalian terbaik yang penah diproduksi oleh Harley-Davidson.

Lawless_FXR_1

Mulai diproduksi tahun 1982, FXR merupakan jawaban yang diharapkan oleh H-D untuk melawan gempuran motor-motor competitor produksi Jepang yang mulai merajalela. Competitor yang lebih ringan dan lincah, memaksa H-D untuk menciptakan motor yang mampu menarik perhatian anak muda, dan penggila performa pada masa tersebut. Diawali dengan frame yang didesain dengan perhitungan computer (yang dianggap canggih pada awal 1980an), frame FXR memiliki backbone kotak yang besar, diameter tubing yang lebih tebal, dan juga support gusset besar di sekitar area komstir. Hasilnya adalah frame dengan ke-kaku-an lima kali lipat daripada frame H-D lainnya.

Lawless_FXR_2

Kombinasi velg 19” di depan dan 16” di belakang, dipadukan dengan fork Narrow-Glide dari Showa, serta shock absorber belakang yang diletakkan di ujung swingarm (berbeda dengan tipe FX lainnya yang meletakkan shock absorber di bagian tengah) melengkapi kerangka motor kencang ini. Pertama kali dilengkapi dengan dapur pacu Shovelhead (sampai tahun ‘84, seterusnya menggunakan tipe Evolution) yang dipadukan dengan girboks 5-percepatan, dengan konfigurasi mesin-girboks yang rapat, mampu menyalurkan trosi besar tanpa hambatan berarti ke roda belakang. Konfigurasi dapur pacu ini di”tanam”kan ke frame menggunakan sistem Tri-Mount, yang merupakan adaptasi dari sistem Rubber-Mount yang sukses di tipe FLT.

Lawless_FXR_3

Namun, keunggulan teknis dari FXR ternyata menyimpan konsekuensi estetika yang cukup mayor dari bidang penjualan. Desain side-panel segi-tiga samping yang merupakan salah satu kekuatan dari frame FXR, dianggap terlalu “motor Jepang” oleh para pecinta H-D klasik. Selain itu, area sekitar komstir yang cukup massif, membuatanya “agak” sulit untuk modifikasi padu-padan dengan model tangki lain, menjadikan FXR sebagai pilihan terakhir untuk motor modifikasi. Penjualan tidak mampu terdongkrak banyak seperti varian Softail atau Dyna. Ditambah dengan ongkos produksi yang cukup tinggi (frame FXR harus menggunakan tenaga manusia untuk pengelasan yang lebih presisi, proses ini tidak bisa digantikan oleh robot) memaksa H-D untuk menghentikan line-up produksi FXR pada akhir tahun 1994.

Lawless_FXR_4

Di dunia saat ini, tidak banyak FXR yang beredar. Selain banyak yang digunakan sebagai kendaraan dinas aparat yang lambat laun terbengkalai perawatannya, FXR yang harga jualnya (seringkali) lebih murah banyak digunakan sebagai “donor” mur-mer untuk modifikasi chopper ala kadarnya. Nasib FXR, mayoritas seperti pepatah “sudah jatuh, tertimpa tangga”. Namun, di tangan para penikmatnya, FXR merupakan harta karun yang tetap dijaga performa-nya. hop-up kit dan performance part, mulai dikumpulkan untuk menjaga varietas langka ini. Beberapa pemilik yang gue kenal bahkan punya “gudang” barang-barang FXR tersendiri. Disaat orang kebanyakan berternak ayam atau sapi, orang-orang ini ternak FXR (sial, gue ngiri parah..!!).

Lawless_FXR_5

Saat jaman dulu melayani “pelanggan senior” yang mampir ke dealership untuk berbelanja kebutuhan service FXR mereka, gue Cuma bisa ngiler saat melihat motor-motor cantik itu mereka parkir di depan toko.. atau pada saat mereka naik ke atas Service Bay untuk sekedar ganti oli. FXR di dunia aja udah ga banyak, apalagi di Indonesia. Kalopun ada, belum tentu orangnya mau jual. Kalopun mau dijual, pastinya muahaaaal. Haduh..!! namun, di sebuah artikel yang ditulis oleh Bill Garlington (dimana sebagian informasi di artikel ini juga gue sadur dari artikel beliau) ada informasi menarik terkait dengan Tips Membeli (Buying Tips): “saat berencana membeli FXR, ingatkan penjualnya bahwa FXR adalah tipe yang susah laku, gak keren, dan sudah untung anda mau me-nengok barang yang dijual..”

Lawless_FXR_6

Ada dua tipe pemilik FXR: pertama, orang yang tidak tahu sebenarnya apa FXR itu, dimana biasanya tips diatas bisa berhasil, dan kedua orang yang faham betul apa FXR itu, dimana biasanya motornya tidak untuk dijual. Bersyukur gue ketemu dengan orang yang tipe pertama.. =)

 

Oleh Rizky Mandra dari SSMC.

 

Please follow & like us :
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://lawlessjakarta.com/blog/aadf-ada-apa-dengan-fxr.html">
Twitter